Chapter 3
The Monster
Game
Charon
terdiam melihat orang-orang bertarung di dekatnya. Yang membuatnya tecengang
manusia melawan prajurit monster yang memakai baju perang berwajah mengerikan
dengan buas membunuh bahkan menggigit leher para lawannya.
“Ini
di mana?” Charon ketakutan tepat saat ia menoleh ada prajurit menghunuskan
pedang ke arahnya. Charon berusaha menghindar tepat saat prajurit itu
ingin menusuk Charon dari arah belakang pria, prajurit monster meremukan
kepalanya. “Aaaaaaa…” jerit Charon melihat pria itu mati dengan darah mengenai
baju seragamnya.
Prajurit monster itu mendekati
Charon membuatnya mundur dan jatuh tersandung mayat di belakangnya. Suara
geraman monster itu membuat Charon bergidik ngeri. Monster itu ingin mencengkram Charon,
tiba-tiba seorang prajurit menusuknya dari samping.
Charon
mengambil kesempatan itu untuk merangkak. Menjauh dari monster yang bertarung
melawan prajurit yang menyerangnya. ”Gue harus pergi dari sini” Charon melihat
layar hpnya sambil menghindar dari tusukan pedang dan para monster yang
bertarung.
”Level 2?” Charon membaca tulisan
di layar hpnya. “giliran siapa lagi?” saat Charon ingin bergerak tiba-tiba
seorang prajurit berlumuran darah jatuh ke tubuhnya. “Damn!” Charon berusaha untuk melepaskan diri dari mayat di
atas punggungnya. Charon menoleh dan terbelalak ketakutan.
Prajurit
monster memakan jantung pria yang ada di atas Charon. Charon merasa mual
melihat pemandangan mengerikan itu. ”Jalan
satu-satunya pergi dari tempat ini hanya bermain game” . Charon berusaha
melihat layar hpnya. ”Ayo Vel! Kenapa lo ga gerak sih!” jerit Charon dalam hati
melihat Vella belum memainkan gilirannya.
”Gue
ga bisa kaya gini terus. Bisa-bisa gue mati di sini” Charon terdiam melihat
bayangan gelap di atas kepalanya. Ia menoleh arah bayangan itu dan menjerit
pada monster yang tadi memakan jantung menyeringai padanya.
”sekarang
giliranmu. Akan ku makan jantungmu” Monster itu tertawa dengan mulutnya yang
masih berlumuran darah.
Charon
berusaha bergerak lepas dari mayat di atasnya tapi kaki monster menginjak mayat
itu sehingga menambah beban membuat Charon tidak dapat bergerak. ”Mau kabur
kemana hah!”
”Kau
akan jadi santapan ku selanjutnya” suara kasar monster yang menarik rambut
Charon yang di kuncir dengan tangannya yang besar dan berkuku tajam seperti
beruang.
”Hiyyaaahhhh!!!”
suara di belakang monster itu di susul dengan kapak membelah kepalanya. Ia menjerit
tepat tubuh monster jatuh di atas mayat pria yang ada di atas tubuhnya. Seorang
prajurit mengambil kapak yang ada di kepala monster dan bertarung tanpa melihat
Charon tergeletak di tanah.
”Great!
Gue sama sekali ga bisa bergerak” Charon
merasakan tubuhnya sakit dan sesak nafas akibat berat dua mayat yang ada di
atasnya. ”Ga di bunuh pake pedang, sekarang gue bisa mati gara-gara di bunuh
pake mayat” keluh Charon sambil berusaha lepas.
Charon
mengeluarkan tenaganya berusaha merangkak agar lepas dari mayat-mayat itu. ”Aaaahhhhhh..!!!”
Ia berhasil mengeluarkan setengah tubuhnya.
”C’mon Cha tinggal dikit lagi” Ia menyemangati dirinya dan dengan
dorongan kuat tinggal kakinya yang masih terjepit. ”Sekali lagi lo bebas, Cha”
Charon
berusaha melepaskan kakinya dari mayat yang berat itu dan berhasil meski
tubuhnya masih merasakan sakit dan nafasnya yang hampir habis. Ia berusaha
berdiri meski kakinya masih terasa sakit.
”Hyaaahhhh” suara dari arah samping mengagetkan Charon. Ia
menghindar dari serangan pedang prajurit pria yang ingin membunuhnya. Prajurit
itu terus mengibaskaan pedangnya meski Charon mundur dengan sempoyangan
merasakan kakinya masih belum kuat menompang tubuhnya.
Charon terjatuh kebelakang di atas mayat. ”Akan ku bunuh
kau!” Prajurit itu mengambil kesempatan dengan menusuk Charon. Dengan sigap ia
menghindar ke samping di dekat pedang.
Ia mengambil pedang itu dan berusaha membalas serangan pria itu.
Pedang
mereka beradu. Charon merasa di posisi yang lemah karena ia melawan pria yang
berdiri di atasnya. Ia menendang kaki prajurit itu membuatnya terjatuh. Charon
mengambil kesempatan itu untuk berdiri.
””Dasar Penyihir!” Prajurit itu
sangat marah. Ia berdiri dan
menyerang Charon yang sudah siap dengan pedang di tangannya. Mereka bertarung
sampai akhirnya Charon menendang perut pprajurit itu sehingga membuatnya mundur
berapa langkah. Dengan cepat sebelum prajurit itu siap
menyerangnya, charon menendang tangan prajurit itu membuat pedangnya jatuh.
Charon mengambil kesempatan itu
dengan menendang perut dan wajah prajurit itu. Prajurit itu merasa kesakitan
kesempatan itu, Charon gunakan memukul kepala prajurit itu hingga pingsan.
Charon mengambil nafas dan
melihat orang-orang masih berperang. ”Semuanya mau ngebunuh gue” pikir Charon
yang waspada akan datangnya serangan. Ia menatap layar hpnya melihat dadu milik Vella
menggelinding.
”Akhirnya.
Ayo, Vel!” Charon sudah tidak peduli dengan prajurit yang saling bunuh di
sekelilinya. Ia hanya melihat layar hpnya menunggu dadu Vella mengeluarkan
jumlah angka.
“Bagus!”
teriak Charon senang saat hasil jumlah dadu Vella keluar dan gambar wajah Vella
berjalan sampai di gambar hutan. “giliran gue” Saat ia ingin
memencet gambar dua dadu tiba-tiba dengan cepat jari Charon memencet gambar dua
dadu. Dadu-dadu itu menggelinding pelan.
Bukkk!! dari arah belakang tubuh prajurit pria mengenai
Charon sehingga ia jatuh dan hpnya terlepas dari tangannya. “Aww..” Charon merasakan sakit di lengannya yang
jatuh terkena batu. Ia menatap prajurit yang berlimang darah roboh di
sebelahnya. Ia hanya terdiam tak dapat bergerak dan melihat prajurit monster
lebih besar dari yang lain di hadapannya. Mosnter itu menyeringai dengan darah
di gigi-giginya yang tajam. ”Gue ga mau mati!” teriak Charon dalam hati dan
melihat hpnya yang jatuh di dekat batu
kecil didekatnya. Ia memegang hp itu tepat saat dadu-dadu itu mengeluarkan
jumlah angka 3 dan saat monster itu ingin menusukan pedang, Charon menghilang
di kota yang terbakar penuh asap dan mayat-mayat membusuk di sepanjang kota.
Charon
terdiam tak dapat bersuara melihat kengerian yang ada di hadapannya. Kedua kakinya
lemas seperti kehilangan tenaga, ia
terduduk melihat mayat-mayat penduduk desa yang ada di sekelilingnya.
”Aaahhhhhhhh....!!!!!!”
teriak Charon sambil menutup matanya dan di layar hp di tangannya muncul
tulisan ”Selamat Anda Menyelesaikan Level 3”
***
Keisha
membersihkan pakaiannya dari sari bunga yang menempel di seluruh tubuhnya.
”Bener-benar lenget” keluh Keisha mengibas rambutnya berusaha supaya sari bunga
itu lepas dari rambutnya yang panjang.
”tetap
aja ga bisa hilang” gumam Keisha lalu ia teringat melihat sungai kecil yang ada
di hadapannya. ”Disini ada orang ga ya?” Keisha melihat sekelilingnya hanya ada
suara angin hutan yang tenang. ”Kalau mandi di tempat terbuka gini mungkin aja
ada yang liat. Cari tempat lain aj kali ya” Keisha berjalan di pinggir sungai
melewati batu-batu sampai tertutup semak tumbuhan yang rindang dan terdengar
suara air terjun.
”Di
balik ini ada apa? Jangan-jangan monster” ia teringat ulat raksasa yang hampir
memakannya. Keisha berbalik ingin pergi tetapi rambut dan kulitnya terasa gatal
dan makin lama sari bunga itu berbau wangi yang sangat menyengat membuat Keisha
sakit kepala.
Keisha
menghela napas dan memasuki semak itu. Ia tercengang melihat kolam dan air
terjun kecil. ”Bagus banget” Keisha mendekati kolam dan menatap pantulan
wajahnya di air. ”jernih”
Ia menunduk ingin menyentuh air
itu tapi terdiam. “masa ada kolam
dekat sungai. Kalo air terjun itu mungkin” Keisha menatap sekelilingnya. Ia
mengambil batu dan melemparkannya ke dalam kolam sambil menunggu apa yang akan
dihadapinya.
Air
kolam itu sunyi hanya ada suara gemerisik air terjun. Keisha juga dapat melihat
batu yang ia lempar ke dasar kolam. Keisha yang masih pensaran melempar batu
yang lebih besar. Tapi sekali lagi tak ada tanda bahaya.
”Aman”
Keisha bernapas lega. Ia menyentuh air yang terasa dingin dan tubuhnya terasa
segar meski air itu hanya mengenai tangannya. Keish dapat melihat sari bunga
yang menempel di kulinya lepas terkena air .
Keisha
tersenyum senang. Ia melepas pakaiannya dan berendam di dalam kolam yang ternyata hanya tinggi lehernya. ”segarnya”
Keisha bermain air membuatnya lupa
berapa waktu yang sudah ia habiskan berendam dan berenang.
Ding!
Suara hp Keisha berbunyi berkali-kali membuatnya tersadar. ”ya, ampun gue lupa”
Keisha berenang ke arah batu besar tempat ia meletakkan pakaiannya.
Keisha membaca chat dari Charon
”Gue ga mau ada di sini” “lama-lama gue bisa gila” “Keisha! Sekarang giliran lo!” “Kei, lo dimana?!”
”Charon
ketakutan? Baru kali ini tu anak takut. Pasti ada apa-apa” Keisha keluar dari
kolam dan memasang pakaiannya di balik batu.
Selesai
memasang baju, Keisha kembali membaca chat yang sudah 40 menit yang lalu hanya
antara Charon dan Vella ”Lo ga kenapa-napa kan Cha? Lo sekarang ada dimana?”
”Gue
ada di kota. Di sini penuh mayat Vel” balas Charon.
“
Lo bisa keluar dari tempat itu?”
”Cuman
di luar batas kota. Di sini gersang. Sisa pohon-pohon terbakar di sekelilingnya”
tulis Charon
”Cha,
kata Kamiki lo harus pergi dari situ. Orc sedang menuju ke tempat lo”
”Orc?
Maksud lo apa Vel??”
”Prajurit
monster yang pernah gue lihat pas pertama kali datang ke sini. Mereka akan
menyerang melalui kota itu lagi”
”Vel,
gue ga bisa pergi kaya ada tembok tembus pandang disekeliling kota. Gue ga bisa ngelewatinnya..
” tulis Charon.
”Cha, lo sekarang balik ke kota. Lo sembunyi
aja di sana. Kalau lo di luar, Orc bakal ngebunuh lo”
” Vel, mereka datang!!!”
”Cepat
sembunyi!! Matiin suara chat lo supaya ga kedengaran mereka!” tulis Vella ”kata
Kamiki lumurin baju lo dengan darah supaya ga tercium bau badan lo”
Keisha
terduduk ”Apa yang udah gue lakuin sih” Keisha benar-benar menyesal. “Desa penuh mayat? Orc? Kamiki?” Keisha merasa
bersalah ia terlalu lama berendam sehingga lupa apa yang di hadapi
teman-temannya. Saat Keisha ingin memencet gambar dadu, terdengar suara langkah
kaki di seberang kolam.
”Yang
Mulia!!” suara laki-laki membuat Keisha terkejut dan sembunyi di balik batu.
”Anda tidak boleh berada di sini. Bagaimana kalau Orc menyerang?” suara itu
makin mendekat.
”Untung
gue udah pasang baju. Kalo ga ada suara chat tadi pasti gue masih ada di kolam”
kata Keisha dalam hati sambil terus bersembunyi di balik batu.
”Disini
kan wilayah aman. Tidak mungkin ada Orc”
”Tapi
desa yang berada di perbatasan utara hancur. Kemungkinan besar mereka akan
menyerang sisi barat dekat garis netral”
”Tidak
mungkin. Aku sudah meminta Trex memasang mantra di sana. Bayangan mereka sekali
pun tidak dapat melewatinya.” Suara itu penuh wibawa dan Keisha terdiam lama
seperti mengenal suara laki-laki itu. ”Apakah prajurit kita menang
pertempuran?”
”Ya,
Yang Mulia. Wilayah perbatasan sebelah timur sudah kita kuasai hanya saja di
sebelah utara desa kita..”
“Akan
ku balas mereka” suara itu penuh amarah. ”Apa ini?” serbuk bunga kematian?” Laki-laki
itu menatap air kolam “Ada yang berendam di kolamku”
”Siapa
pelakunya? Aneh sekali ada yang masih hidup setelah keluar dari padang
kematian?” gumam prajurit di sebelah pria itu.
”kamu
cari orangnya. Ia tidak mungkin jauh dari sini” perintah laki-laki itu.
”Baik
Yang Mulia!” pengawal itu pergi ke arah mereka datang.
”Aku
tau kamu masih ada di sini” Keisha terkejut mendengar laki-laki itu mulai
berjalan melewati batu si sisi kolam. ”Apa kamu penyihir atau Orc?
Keisha
tidak berani menjawab. Ia hanya tetap sembunyi. ”Dia teman atau lawan gue ya?
Gimana kalau tuh cowok berniat jahat”
Ding!
Suara chat datang mebuat Keisha kaget begitu juga laki-laki itu yang
mendengarnya mencari dari mana arah suara itu.
”Mati gue!” Keisha menatap layar
hpnya dan melihat chat dari Charon. “Kei
Cepat! Gue hampir ketahuan!!”
Ding!
Kali ini chat dari Vella. ”Kei! Gue mau di bunuh di sini! Cepat!!!!”
Keisha
langsung memencet dua dadu dilayar hpnya. ”Ayo cepat” bisik Keisha sambil terus
menatap dua dadu menggelinding.
”Ketemu!”
laki-laki itu berdiri di hadapan Keisha. Keisha menatap kaki yang ada dihadapannya lalu ke atas memandang wajah laki-laki
itu.
Keisha
terkejut melihat wajah laki-laki itu. ”ga mungkin” bisik Keisha yang terbelalak
memandang laki-laki yang memakai baju bangsawan tradisonal Jepang. ”Ya..mada?”
tepat dilayar hpnya dua dadu itu berhenti menggelinding dan menunjukan angka 3,
ia menghilang.
***
”Kamiki?”
Vella menatap laki-laki yang hadapannya mengangguk. ”gimana lo bisa ikut sama
gue?” Vella menatap Kamiki masih bingung laki-laki itu bersamanya.
”aku
juga tidak tau. Saat kamu menyentuhku tiba-tiba saja kita berada di sni” jawab
Kamiki yang masih menatap Vella. ”Kamu benar-benar penyihir?”
”Bukan.
Gue bukan penyihir. Gue manusia biasa” Vella memandang sekelilingnya ”em, jadi
tempat apa ini?”
”maksudmu
hutan ini?” tanya Kamiki sambil berjalan ke arah pohon di belakangnya dan duduk
di bawahnya.
”maksudku
semuanya” Vella membentangkan tangannya meminta jawaban akan negeri Ryukuni.
Kamiki hanya menatap vella kebingungan. Vella mengembuskan nafasnya. ”ya,
maksud gue hutan ini”
”Ini
hutan wilayah kerajaan Naga Hitam dan beberapa mil dari sini kita sampai ke
kerajaannya” ada nada cemas di suara Kamiki.
”Ma,
maksud lo kita hampir mendekati kerajaan jahat itu?” suara Vella bergetar
ketakutan.
”Kita
harus pergi secepatnya dari sini. Di hutan ini sangat berbahaya. Banyak monster
buas bahkan orc pun tidak berani melewatinya” Kamiki bangkit berdiri.
”Orc?”
Vella menatap Kamiki ”Apa itu Orc?”
”Prajurit
yang kita lihat tadi. Mereka prajurit milik Raja Naga Hitam. Mereka sangat
jahat dan membunuh manusia untuk di jadi santapannya” jelas Kamiki dengan suara
datar.
Vella
ketakutan mengingat wajah Orc yang ia lihat dan hampir memakannya. Ia menatap
sekeliling hutan yang gelap bahkan sinar matahari pun tidak dapat menembus
hutan. ”Hutan ini lebih berbahaya? Bahaya apa?”
”Serangga
raksasa”
”se,
serangga raksasa?!” Jerit Vella sambil berbisik. Ia mendekati Kamiki dan
berdiri
di sebelahnya. Matanya terus melihat sekeliling. ”seranggan kecil aja gue takut
apalagi raksasa”
”Tenang.
Aku sudah membuat pelindung tapi tidak tau bisa bertahan berapa lama” Kamiki kembali
duduk diikuti Vella yang mengambil tempat di sebelahnya.
”Kalo
gitu kita tunggu teman gue memainkan gilirannya. Gue rasa sih ga bakal lama”
gumam Vella sambil melihat layar hpnya.
”itu
apa?” Kamiki melihat hp di tangan Vella.
”Ini
namanya hp. Alat komunikasi canggih selain untuk komunikasi ini juga bisa buat
foto, dengerin musik, browsing dan main game” Kamiki masih binggung dengan
penjelasan Vella.
Vella
menghembuskan nafas berat ”lo ga bakal ngerti omongan gue. Lo kan dunia game”
”dunia
game?”
”Iya,
gue berasal dari dunia nyata”
”Duniaku
juga nyata” Kamiki menatap Vella dengan wajah serius.
”Kalo
lo berasal dari dunia nyata terus dunia gue di bilang apa hah?”
”mungkin
berbeda dimensi” jawab Kamiki sambil berpikir ”Aku pernah membaca bahwa di
dunia ini banyak dimensi dan bola naga yang dapat menguasai seluruh dimensi”
”Gue
ga gitu ngerti sih. Tapi mungkin juga sih. Buktinya gue masuk ke dunia ini gara
–gara game ini” kata Vella sambil menatap hpnya.
”Iya.
Memang ga masuk akal bahkan gue sendiri juga masih belum percaya kenapa bisa
terjadi.” Vella berubah posisi duduknya menghadap Kamiki. ”pertama gue main
game ini semua biasa aja. Tapi pas sudah nyelesain level satu tiba-tiba cahaya
terang dari bola naga terus tau-tau gitu gue buka mata udah ada di dunia ini”
Kamiki
menatap Vella ingin tahu. ”bola naga?”
Vella
balik menatap Kamiki marah. ”Iya, Bola Naga. Makanya dari itu kalau gue dan
teman-teman gue mau kembali ke dunia kami berasal, kami harus terus bermain
sampai mendapat bola Naga”
Kamiki
menatap Vella terkejut ”Kamu yang Terpilih?!”
”Yang
Terpilih?”
”Iya.
Menurut ramalan dari Raja Ryukai akan ada yang Terpilih menyelamatkan negeri
ini dan menemukan Bola Naga” jelas Kamiki lalu terdiam melihat Vella lama. ”aku
rasa itu bukan kamu”
”Hey!!”
Vella tersinggung mendegar Kamiki yang merendahkannya.
”asal lo tau gue ini model terkenal, cantik, anggun dan populer. Kenapa gue ga
bisa jadi Yang Terpilih!”
Kamiki
hanya menatap Vella dengan tatapan tidak percaya ”Anggun?” Kamiki tertawa.
Vella yang kesal memukul pundak Kamiki. ”Aw, itu yang kamu bilang anggun?”
Vella
terdiam ”bener juga dari tadi sikap gue kasar” pikir Vella dalam hati. ”Ehm!” Vella
memperbaiki posisi duduknya dan menatap Kamiki lembut ”maaf, tadi gue masih Jet
lag”
”Je,
jet lag?”
”Ya
ampun Vel! Mana ngerti dia arti Jet lag lagian emang gue habis penerbangan apa”
maki Vella dalam hati. ”Ehm.. maksud gue masih beradaptasi. Gue masih syok
berada di sini” jelas vella dengan suara
lembut yang biasa ia gunakan pada para cowok. Vella tersenyum dengan tatapan
yang menebar pesonanya.
”Kamu
mengerikan kalau bersikap seperti ini” Kamiki menggeser posisi duduknya menjauh
dari Vella.
”Nih
cowok bener-bener deh!” wajah Vella berubah jadi kesal tidak percaya pesonanya
tidak mempan pada Kamiki. ”Heh! Lo tuh udah gue baik-baikin malah
bersikap kayak gitu!” Vella berdiri menjauh dari Kamiki. “Lebih baik gue pergi!
Gue bisa ngurus diri gue sendiri!” Vella
mengangkat dagunya.
“Apa
kamu tidak takut dengan monster laba-laba, kaki seribu, ulat raksasa..” Kamiki
menyebutkan serangga yang berubah menjadi raksasa tanpa menyadari wajah Vella
yang memucat ketakutan.
“Gu,
gue bisa.. atasin kok” kata Vella dengan suara yang tidak seyakin sebelumnya. “Yang
penting gue ga sama-sama dengan lo!”
Kamiki
berdiri dan memegang lengan Vella. ”Disini benar-benar bahaya bukan hanya ada
monster tetapi juga ada iblis milik Raja Naga Hitam selalu melintasi hutan ini”
”Gue
ga takut!” Vella yang masih marah membuang mukanya ke arah lain. “gue bisa
ngurus diri gue sendiri” Kriiuuuukkkkk… suara dari perut Vella membuat mereka
terdiam lama. Wajah Vella memerah karena malu.
”kamu
lapar?” tanya Kamiki sambil tersenyum. ”kalau kamu mau, aku punya roti”
Vella
berbalik mengahadap Kamiki ”gue ga mau roti. Gue pengen makan daging” Vella
memandang Kamiki yang mengangkat alisnya.
”Bego lo, Vel! Barusan aja lo bilang bisa ngurus diri lo sendiri
sekarang gara-gara perut hilang gengsi lo” maki Vella pada dirinya sendiri.
”Susah
mencari daging di sini. Mungkin aku harus menangkap monster laba-laba”
Vella
langsung memegang baju Kamiki. Wajahnya pucat begitu mendengar kata laba-laba
apalagi memakannya. ”Ugh.. mikirinnya aja udah bikin gue ngeri. Em, ga usah.
Gue makan roti aja”
Kamiki
kembali duduk lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku bajunya. ”Ini”
kamiki memotong roti itu menjadi dua.
Vella langsung mengambil roti itu dan melahapnya. ”gue
lapar habis pulang sekolah ga ada makan”
”Sekolah?”
”tempat belajar, Menuntut ilmu pengetahuan” jelas Vella. ”Ini
seragam sekolah gue” Vella menunjukan kemeja putih dan rok coklat bermotif
kotak-kotak.
”Aku mengerti” Kamiki mengangguk sambil memakan roti
bagiannya.
”Di tempat lo juga ada sekolah?”
”Bukan sekolah hanya tempat berlatih pedang dan menjadi
seoorang prajurit”
”Pedang? Kamu benar-benar samurai?” Vella mentap Kamiki
dengan mata takjub.
”Ya. Untuk saat ini” jawab Kamiki sambil terus memakan
rotinya.
”Saat ini?” Vella menatap Kamiki yang tidak ingin
melanjutkan pembicaraan ”Kamu berasal dari kerajaan apa?”
”Naga Biru” jawab Kamiki singkat.
”Naga biru?! Kerajaan milik Raja Ryuza ya?”
Kamiki
menatap Vella tajam ”dari mana kamu tau?”
Vella
balik menatap tajam Kamiki ”tentu aja gue tau. Nih, ada di video game ini”
Vella menunjukan hpnya di wajah Kamiki. ”Gue tau cerita pertarungan Raja Ryukai
dan Gack terus Raja Ryuza dan Raja Hongo di bunuh oleh pamannya”
Kamiki
Memegang kedua pundak Vella mengahadap dirinya ”Raja Ryuza di bunuh oleh Raja
Hongo bukan Gack!” Suara Kamiki yang lembut berubah tajam.
Vella
berusaha melepaskan pegangan Kamiki yang mulai menyakitinya ”Dengar ya, yang
ngebunuh Raja Ryuza itu Gack! Bukan Raja Hongo! Kalau ga percaya nih!” Vella
memencet layar Hpnya mencari simbol kamera diatas gambar ular tangga. ”Lihat
nih” Vella memencet gambar kamera dan menunggu video pengantar game di putar
ulang.
Kamiki
terkejut mendengar suara dan gambar naga bergerak di layar. ”tenang. Gambarnya
ga akan keluar kok” Vella menyentuh pundak Kamiki untuk menenangkannya. Lalu
mereka menonton bagaimana Raja Ryuza dan kedua anaknya di bunuh oleh Gack.
Vella
menatap wajah Kamiki yang penuh amarah sampai video selesai di putar. ”Lo ga
papa?” tanya Vella pelan melihat Kamiki terus menatap layar meski video itu
sudah selesai diputar.
Tiba-tiba
Kamiki menghentakan ujung pedangnya ke tanah. ”Aku bersumpah akan membunuhnya”
gumam Kamiki sambil terus menatap pedangnya. Vella ketakutan melihat perubahan
sikap Kamiki.
”Maaf.
Aku membuatku terkejut” Kamiki menatap Vella lembut. ”tidak seharusnya aku
bersikap seperti itu. Terima kasih karena kamu sudah menunjukan yang sebenarnya
terjadi” kamiki tersenyum ke arah Vella
”Bu,
bukan masalah kok”Vella memandang ke depan menghindar tatapan Kamiki. ”Kenapa
gue jadi kayak gini? Tadi takut sekarang malah terpeso.. Vel! Ga mungkin! Ga
ada di kamus gue kata itu. Lo cuman kaget Vel!” teriak Vella memaki dirinya
sendiri.
”Kamu
kenapa?” Kamiki menatap bingung Vella yang berperang melawan hatinya sendiri.
”E,
ga papa” Vella terdiam tak berani memandang Kamiki. ”Kearah mana kita ingin menjauh dari arah kerajaan Naga
Hitam?”
”Aku
rasa itu sangat sulit. Sekeliling hutan ini penuh dengan mosnter dan orc. Belum
lagi jika ada iblis milik Raja Naga Hitam dan ada gunung-gunung”
”Kita
lewat gunung aja” Vella seakan mendapat pencerahan untuk keluar dari wilayah
Kerajaan Naga Hitam.
”Gunung
itu lebih berbahaya. Ada petir yang siap menyerangmu dan saat kamu berlindung
celah gunung, gunung-gunung itu hidup dan membunuhmu” jelas Kamiki. Vella jadi
ingat dengan Charon yang pertama kali sampai ada petir yang akan membunuhnya.
“maksudmu
gunung yang ini ya?” Vella menunjukan gambar ular tangga urutan 10 bergambar
gunung-gunung yang di penuhi awan gelap.
”Iya”
Kamiki mengangguk dan takjub degan gambar ular tangga yang menggambarkan
wilayahnya persis dengan aslinya.
Ding!
Suara chat mengagetkan Kamiki. Tangannya siap-siap mengangkat pedangnya.
”tenang. Ini ada chat dari teman gue yang masuk ke dunia ini” Vella menunjukan
layar hpnya ke arah kamiki dan membacakan isi Chat dari Charon.
”Gue
ga mau ada di sini” Ding! “lama-lama
gue bisa gila”
Vella membaca chat dari Charon
wajahnya terlihat khawatir. Baru kali
ini Charon kayak gini” ia melihat posisi Charon hanya gambar puing-puing
bangunan yang habis diserang.
Ding!
“Keisha! Sekarang giliran lo!” tulis
Charon lagi.
“Bener-bener
si Keisha udah dia yang ngajak main nih game, selalu dia yang paling lama maen
giliran!” kesal Vella sambil memandang posisi Keisha yang berada di wilayah
sungai.
“Ding!
“Kei, lo dimana?!” chat dari Charon datang bertubi-tubi.
Vella
langsung mengetik huruf-huruf membalas chat dari Charon. ”Lo ga kenapa-napa kan
Cha? Lo sekarang ada dimana?”
”Gue
ada di sebuah kota. Di sini penuh mayat Vel” Vella membacakan chat dari Charon
ia memandang Kamiki. “Ini di wilayah Kerajaan Naga Biru kan?”
Kamiki
yang dari tadi hanya diam memandang Vella dengan wajah serius. ”ya. Kota itu
berada di wilayah perbatasan dan baru di
serang 5 hari yang lalu oleh Orc”
“Jadi?
Mayat-mayat di sana?”
“Ya.
Prajurit kerajaan masih belum berani memasuki wilayah itu karena masih belum
aman dan mayat-mayat di sana masih belum dikebumikan”
Vella
bergidik membayangkan mayat-mayat yang mati di bunuh oleh Orc. “Charon harus
pergi dari tempat itu” jari-jarinya mengetik huruf yang ada di layar.“ Lo bisa
keluar dari tempat itu?”
”Cuman
di luar batas kota. Di sini gersang. Sisa pohon-pohon terbakar di sekelilingnya”
balas Charon
”Vella”
Kamiki memandang Vella serius. ”sebaiknya kamu beritahu temanmu agar cepat
pergi dari sana. Pasuka Orc yang kita lihat tadi sebentar lagi akan menuju ke
arahnya”
”I,iya”
dengan jari gementar Vella cepat memencet huruf-huruf dilayar ”Cha, kata Kamiki lo harus pergi dari situ.
Orc sedang menuju ke tempat lo”
”Orc?
Maksud lo apa Vel??”
”Prajurit
monster yang pernah gue lihat pas pertama kali datang ke sini. Mereka akan
menyerang melalui desa itu lagi”
”Moga
aja Charon bisa pergi dari sana” doa Vella sambil terus khawatir akan bahaya
yang menuju arah Charon.
Ding!
Dengan cepat Vella membaca balasan dari Charon ”Vel, gue ga bisa pergi kaya ada
tembok tembus pandang disekeliling kota.
Gue ga bisa ngelewatinnya.. ” tulis
Charon
”Kok
bisa?” Ia menatap Kamiki dengan wajah khawatir. ”Charon ga bisa keluar dari
wilayah itu. Gimana nih?” Vella benar-benar panik. ”Keisha, lo dimana sih!”
”Tenang”
Kamiki menyentuh bahu Vella. ”minta temanmu untuk kembali ke kota itu”
”lo gila?! Di sana ada mayat!”
Kamiki
menatap Vella tajam. ”Itu jalan satu-satunya. Jika dia keluar dari batas kota akan mudah bagi Orc untuk mengejar dan membunuhnya”
Vella
mengangguk mengerti. ”lo bener” Vella mengetik tulisan memberitahu ide dari
Kamiki. ”Cha, lo sekarang balik ke kota. Lo sembunyi aja di sana. Kalau lo di
luar, Orc bakal ngebunuh lo”
Vella
lama menunggu balasan dari Charon. Ding! ” Vel, mereka datang!!!”
“Cepat
sembunyi!! Matiin suara chat lo supaya ga kedengaran mereka!” balas Vella
cepat.
”Mereka
datang” Vella menatap Kamiki dengan panik. ”Apa yang harus Charon lakuin supaya
ga ketahuan Orc?”
”Hanya
ada satu cara. Lumurin tubuhnya dengan darah mayat yang ada di sana dan
sembunyi karena penciuman Orc sangat tajam mencium bau manusia”
Hanya
membayangkan apa yang akan dilakukan Charon, Vella mual dengan cepat jarinya
mengetik di layar hpnya.”kata Kamiki lumurin baju lo dengan darah supaya ga
tercium bau badan lo”
Srekkkk!!!
Suara keras berasal dari atas pohon tempat Kamiki dan Vella duduk. Vella tidak
berani memandang ke atas. ”Itu apa?”
”jangan
lihat ke atas!” Kamiki memperingatkan Vella. ”mereka tidak akan berani
mendekati kita” meski suara Kamiki tenang tapi tangannya bersiap melepaskan
pedang dari sarungnya.
”Mereka?”
Vella menatap sekelilingnya penuh laba-laba besar. Wajahnya pucat ketakutan
”Aaaaaaaaaaa...!!!” jerit Vella. Kamiki langsung menutup mulut Vella.
”Diam!
suara teriakanmu memanggil dia” Bisik Kamiki di telinga Vella membuatnya diam.
Tiba-tiba
laba-laba yang mengepung mereka berlari menjauh. ”Dia datang” suara cemas
Kamiki membuat Vella tegang.
”Siapa?”
”Pemimpin
pasukan Orc, prajurit Iblis milik Raja Naga Hitam” Bisik Kamiki. ”Kita harus
pergi dari sini’ Kamiki mengangkat tangannya dan mengibaskan seakan ada kabut
menghilang.”Aku tidak bisa menggunakan kekuatanku di sini. Ia akan tau dimana
kita berada” Kamiki menarik tangan Vella untuk berdiri dan belari ke arah pohon
yang lebih besar. Mereka sembunyi di balik pohon.
Suara
tenang hanya ada hembusan angin akan tetapi hawa yang dingin dan mencekam
membuat Vella ketakutan. Ia dapat merasakan iblis itu mendekati tempat mereka
sembunyi. Zrasshhhh!!!! Kamiki menarik Vella pindak kesisi lain pohon
menghindar dari iblis yang terbang menuju tempat mereka sembunyi.
Vella
dapat melihat sedikit bagian belakang iblis itu dengan jubah panjang, baju
perang berwarna hitam dan hawa gelap menyelimuti iblis itu. Iblis itu berbalik
ke belakang tepat saat Kamiki menarik Vella ke belakang.
Kamiki
menunduk dan mengambil batu di dekat kakinya. Ia melempar batu itu jauh dari
tempat mereka berada. Iblis itu terbang menuju arah batu. Kesempatan itu Kamiki
menarik Vella bersembunyi ke pohon besar di sebelahnya.
Vella
menatap Kamiki takut. Kamiki hanya menutup mulut Vella dengan tangannya
mencegah Vella yang tidak tahan untuk teriak. Vella mengigil ketakutan. ”gue
harus pergi dari sini” kata Vella dalam hati.
Graaakkkkkkkhhh!!!
Suara monster membuat Vella kaget. Ia menoleh di balik pohon melihat iblis itu
membunuh monster laba-laba hanya dengan satu tusukan. Lalu iblis itu memandang
laba-laba dan tiba-tiba saja monster itu bergerak seakan-akan menjauh dari
iblis. Suara teriakan terakhir monster laba-laba membuat Vella ngeri
seakan-akan jiwa monster itu tercabut dari tubuhnya.
Tanpa
sadar kaki Vella mundur ke belakang dan menginjak ranting. Kreekkkkk!! Iblis
itu menoleh ke arah Vella yang sudah di tarik Kamiki sembunyi ke sisi lain
batang pohon mencari sudut mati pandangan iblis itu.
Zrasshhhhhh!!!
Iblis itu melayang ke arah vella dan Kamiki. Vella benar-benar ketakutan. Ia
menatap layar hpnya dan mengetik huruf-huruf di layar. ”Kei! Gue mau di bunuh di sini! Cepat!!!!”
Iblis
itu berhenti di tempat ranting yang patah. Ia menatap ke sisi pohon yang lain
tempat Vella dan Kamiki bersembunyi. Kamiki dan Vella hanya menunggu iblis itu
bergerak tetapi ia hanya diam dan berbalik ke arah ia datang.
Vella
menghembuskan nafas lega dan menatap Kamiki masih waspada. Vella melihat layar
hpnya dan tersenyum senang sambil menunjukan pada Kamiki, Keisha sudah
memainkan gilirannya.
Dengan
cepat jari Vella memencet dua dadu yang ada di layar hpnya. Saat ia beralih
menatap Kamiki, wajahnya pucat pasi. Iblis itu berada tepat di belakang Kamiki.
Vella
dapat melihat wajahnya yang mengerikan dengan mata gelap yang seakan menarik
jiwanya ke dalam mata iblis itu. Iblis itu makin mendekat ke arah mereka.
Kamiki
yang sadar akan perubahan Vella langsung menarik Vella berlari menjauh. ”Ayo!
Kita harus lari!” Vella seperti di tuntun untuk lari. Tubuhnya hanya bisa
mengikuti langkah kamiki tapi kesadarannya seakan di tempat lain.
”Vel!”
teriak Kamiki pada Vella yang terjatuh.
iblis itu melesat mendekati mereka.
Kamiki
melindungi tubuh Vella dengan tubuhnya tepat saat itu jumlahkedua dadu
mengeluarkan angka 2, Vella dan Kamiki menghilang. Mereka merasakan seperti
naik seluncuran dan jatuh di pegunungan hijau.
Vella
diam tak bergerak wajahnya masih pucat. Kamiki menyentuh wajah Vella dan
mengucapkan mantra seketika itu, Vella seakan tertarik kesadarannya. Ia menatap
Kamiki dengan wajah bingung . ”Kita berada di mana?” tanya Vella yang masih
lemah sambil melihat sekelilingnya yang tenang meski hari gelap.
”Kita
aman di sini jauh dari wilayah Raja Naga Hitam” Kamiki duduk di atas rerumputan
di samping Vella.
”Aneh.
Seharusnya kan kalau 2 kita berada di kotak 13 di dekat istana Naga Hitam”
Vella bangkit duduk lalu ia melihat layar hpnya. Pantesan, kita beruntung ada
ular di sini. Kita berada di kotak 7 wilayah netral”
”sepertinya
dadu itu masih bersinar” Kamiki menatap layar hp Vella.
”masa
sih?” Vella ikut melihat kedua dadu yang masih bersinar tanda gilirannya masih
jalan. ”Kok gue lupa sih. Ini bener-bener kaya permainan ular tangga” Vella
tersenyum senang/
”Kalau
dua dadu mengeluarkan bulatan angka yang sama maka bisa sekali lagi main sampai
kudua bulatan dadu ini tidak sama” jelas Vella pada Kamiki yang mengangguk
mengerti. Vella memainkan gilirannya ”semoga keluar angka sama lagi” bisik
Vella.
”Kenapa?”
tanya Kamiki yang mendengar doa Vella.
”di
kotak 9 ini ada tangga. Kita bisa naik ke wilayah Kerajaanmu” jelas Vella lagi sambil
tersenyum menunjukan tangga ke arah sungai yang di lalui Keisha.
Vella
tidak sabar menunggu. Tiap gelindingan kedua dadu itu ia cermati dan tanpa
sadar menyebut angka 2. Kamiki hanya tersenyum dengan tingkah Vella.
”Dua!!”
jerit Vella senang yang langsung memegang tangan Kamiki. Mereka menghilang lalu
seakan ada gasing yang perputar dalam sekejap mereka berada di sungai tempat
Keisha yang sebelumnya berada di sana.
”sepertinya
masih giliranmu” Kamiki yang sudah paham permainan itu mengingatkan Vella yang
tersenyum mengangguk. Vella memencet gambar dadu dan ia tidak peduli berapapun
angka yang keluar selama ia di Wilayah Kerajaan Naga Biru, ia aman karena ada
Kamiki.
Kedua
dadu itu berhenti dengan jumlah angka 3. Vella memegang tangan Kamiki dan
mereka menghilang menuju tempat Keisha berada.
***

Komentar
Posting Komentar