Langsung ke konten utama

Nemesis - Dark 1

5 Bulan yang lalu

Tangisan kedua orangtuaku seakan menulikan telingaku. Kesedihan kami. Kepedihan kami. Kepiluan kami. Rasa bersalah kami.

Kehancuran kami akan kehilangan seseorang yang sangat kami cintai. Yang terbaring memegang buket bunga mawar putih. Memakai gaun pengantin wanita yang selama ini ia impikan dikenakan dengan seseorang yang ia cintai disaat ia dewasa nanti. Tetapi sekarang, ia mengenakannya sebelum impiannya terwujud.

Hatiku teriris meratapi ia yang begitu muda tidak akan pernah mencapai semua keinginannya. Impiannya. Meratapi bahwa adikku, satu darah dagingku,  mendahuluiku.

Siapa yang patut disalahkan? Papa yang lebih memilih aku dibandingkan adikku? Mama yang tidak bisa menjaga adikku? Atau aku, sebagai kakaknya tidak bisa melindunginya?!

Agh! Ini semua membuatku menggila! Ini tidak adil! Ia begitu muda. Lihat wajahnya yang cantik terbaring disana! Kenapa dia yang harus pergi?! 

Ini semua tidak adil! Bukan papa, mama ataupun aku yang salah! Ini salah Tuhan yang mengambilnya terlalu cepat! Ya! Benar ini salah Tuhan!

"Kania.. Bangun sayang! Mama tidak mau kehilangan kamu!" Jerit mama sambil menyentuh wajah pucat adikku. Menyentuh luka di wajahnya yang dijahit sampai pucak kepalanya. 

"Hentikan! Kamu pikir dengan seperti ini dapat mengembalikan Kania?! Harusnya aku membawanya ikut bersamaku!" Bentak papa yang ditahan papa tiriku.

"Lepaskan!" Papa menatap suami mama dengan tajam. "Yang aku katakan memang benar. Karena keegoisannya, ia menolak menyerahkan Kania!"

Lalu papa berbalik menatap mama dengan penuh amarah. "Karena ego kamu, anak kita meninggal! Kalau saja kamu lebih memperhatikan Kania dibandingkan keluarga barumu, Kania masih hidup!"

"Nicholas!!!" Bentak suami mama menarik kerah kemeja papa. 

"Ahhhhh!!! Cukup!!!!" Teriak mama memekakkan telinga. Membuat semua yang hadir terdiam. 

"Aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Mama minta maaf Kania" mama kembali terisak. Menangis sejadi-jadinya.

Aku tertunduk. Aku tidak tahan berada disini. Dengan gontai, melewati orang-orang dan keluargaku, aku keluar dari ruangan ini. Dari rumah ini. 

Siapa yang salah? Lagi-lagi aku memikirkannya. Mama sudah mengakui kesalahannya. Tetapi itu tidak membuatku tenang. Tuhan sudah kusalahkan pun masih tidak membuatku puas.

Lalu apa? Apa?! Tidak! Bukan apa. Tetapi siapa! Kania tidak mungkin begitu ceroboh jatuh dari lantai dua sekolah. Ia tidak mungkin bunuh diri hanya karena dijauhi teman-temannya. 

Hah! Pikiran gila! Meski semua orang mengatakan bahwa ia bunuh diri lalu kenapa, kenapa aku malah berpikir jika ia tidak akan mungkin melakukan hal bodoh seperti itu? 

Kania begitu ceria dan memiliki banyak teman saat awal masuk sekolah. Tetapi beberapa bulan terakhir ia dijauhi teman-temannya. Dan aku baru tahu setelah dua hari sebelum ia meninggal. 

Jika saja aku tidak selalu izin mengikuti perlombaan sehingga aku tahu semua kabar tentang Kania. Jika saja aku menolak tegas permintaan Kania untuk tidak memberitahu semua orang di sekolah jika ia adik kandungku. Jika saja aku memaksa kehadiranku menemani Kania. Ia mungkin masih hidup. Tidak akan ada orang-orang berani menjauhinya. Terutama dengan nama papa yang disegani dan aku yang bisa melindunginya. Bahkan jika aku izin tidak hadir di sekolah pun siapa yang berani mengganggunya! 

Tarikan kecil di ujung gaunku tersadar. Aku menunduk menatap  anak laki-laki kecil dengan mata sembab. Menatap balik dengan mata yang sama seperti adik kandungku.

"Kak Tania, bentar lagi kak Kania mau dibawa" ucapnya dengan nada sedih. Ya Tuhan. Bahkan anak sekecil ini mengerti jika Kaniaku, Kania kami akan dimakamkan. 

"Ayo masuk kak. Kita lihat wajah kak Kania lagi" 

Aku menunduk dengan air mata yang kembali mengalir. "Ya. Ayo kita lihat wajah Kania untuk terakhir kalinya" aku menggengam tangan adik tiriku masuk ke dalam rumah. Ya, ini terakhir kalinya aku akan melihat wajah Kania untuk selamanya.


*******


Previous           Index          Next


Komentar

Postingan populer dari blog ini

NEMESIS

RyuKuni Game Chapter 2

The Victim