Tidak bisa. Aku tidak bisa bersekolah disini. Di tempat Kaniaku meninggal. Dadaku terasa sesak mengingat kenangan Kania di sekolah ini bahkan sangat terasa sakit Kania meninggal disini. Aku harus minta papa memindahkanku ke sekolah lain. Sekolah yang jauh dari sini. Bahkan jika perlu ke luar negeri.
"Hey Tania" panggil gadis seumuranku dengan suara senang. Hebat. Ia malah senang disaat aku sedang sedih.
Ah.. Bodohnya aku. Ia tidak tahu jika aku sedang bersedih. Bukan. Bukan hanya dia. Tidak ada seorangpun yang tahu jika aku adalah kakak Kania. Kakak dari siswi kelas 1 yang bunuh diri.
Tetapi tidak seharusnya mereka senang disaat sekarang! Aku menatap semua orang beraktifitas seperti biasa. Bermain dan senang khas remaja pada umumnya. Menatap benci pada mereka yang tertawa bahagia disaat salah satu dari bagian mereka, bagian kami telah pergi untuk selamanya.
"Kamu kenapa?" tanyanya saat berdiri disampingku.
"Tidak apa-apa." yah, tidak apa-apa hanya dibibirku. Tetapi hatiku bercamuk.
"Kenapa kamu tambah izin ga sekolah sampai seminggu?" tanyanya lagi.
Aku hanya tersenyum sinis. "Ada urusan keluarga"
"Hmm" balasnya sambil mengangguk-angguk lalu menatap ke bawah. "Apa kamu tau ada anak kelas 1 bunuh diri melompat dari tempat kita berdiri sekarang"
"Apa?!" aku menatapnya terkejut. Apa benar Kania menjatuhkan diri ditempat aku berdiri sekarang?
Tubuhku gementar. Kedua kakiku terasa lemas tak dapat menompang tubuhku. Membuatku terjatuh di lantai putih yang dingin.
"Hey kamu kenapa?" ia menunduk menarik tubuhku agar aku berdiri. "Aku cuma bercanda"
Bercanda?! Aku menatapnya tajam. "Itu tidak lucu!" dengan kasar aku menghempas tangannya. Lalu berdiri sendiri dengan menyentuh dinding di depanku.
"Kamu kenapa sih? Kenapa malah marah denganku? Aku kan cuma bercanda"
"Tetapi itu tidak lucu!"
"Oke, oke. Aku minta maaf." ucapnya tidak sepenuh hati. "Tetapi memang benar ia menjatuhkan diri dari lantai sini tapi tempatnya di ujung dekat tangga" ia menunjuk ujung koridor tempat kami berdiri.
Aku menoleh ke arah yang ia tunjukkan. Menajamkan mataku di sela siswa-siswa yang memenuhi koridor. Sampai menatap tempat yang dimaksudnya yang di beri pita garis kuning.
Kenapa aku tidak menyadarinya? Aku jarang melewati tangga itu karena jauh dari kelasku yang berada di bagian ujung sisi lain lantai ini. Aku selalu menggunakan tangga yang berada di dekat ruang kelasku
Apalagi dengan gedung berbentuk huruf L. Gedung ini Memiliki 3 tangga penghubung ke lantai 2 di setiap sudut bangunan. Tetapi hanya kelas 1 dan 3 belajar di gedung yang sama. Sedangkan kelas 2 berada di gedung sebelah, satu gedung dengan ruang guru, ruang OSIS dan ruang fasilitas sekolah.
"Beritanya benar-benar menghebohkan. Bahkan sampai ada wartawan dan reporter meliput"
Ya aku tahu hal itu. Para pemburu berita memenuhi rumah duka. Hanya mama dan suaminya yang menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Sedangkan aku dan papa tidak ingin meladeni apalagi disorot kamera oleh mereka.
"Asal tau saja, banyak anak-anak yang numpang tenar agar diwawancarai termasuk si Vani." sambungnya membuatku geram. Numpang tenar melewati musibah orang lain?! Kata-kata kotor tertahan dibibirku.
"Dia bahkan menangis. Setelah wawancaranya ditayang di TV dan sosial media, ia ditawari menjadi model iklan. Hebat kan?" sambungnya lagi membuatku akhirnya melepas pertahanan untuk mengumpat walau didalam hati.
Meski Vani temanku tidak seharusnya ia melakukan hal menjijikan seperti itu! Berpura-pura dekat padahal ia salah satu orang yang sering mengejek adikku.
"Karen, Tania!" teriak gadis yang baru saja kami bicarakan. Aku menatap gaya penampilannya yang semakin mencolok dari biasanya. Bahkan roknya semakin pendek dari kemaren.
Aku membuang wajahku ke depan. Menatap orang-orang yang asik bermain basket dibawah sana. Berpura-pura tidak menyadari ia berdiri di sebelah kiriku.
"Wah artis baru" ucap Karen yang tidak dapat menyembunyikan rasa irinya.
"Aku bukan artis baru tetapi sudah dari dulu" balasnya yang hanya ditanggapi cibiran oleh Karen.
"Kamu kenapa ga sekolah minggu kemaren?" tanyanya sambil bersandar di dinding pembatas balkon di sebelah kiriku.
"Ada urusan keluarga" jawabku tanpa memandang wajahnya. Untuk sekarang aku tidak bisa. Melihat wajahnya hanya akan membuatku mengeluarkan amarah yang sedang kutahan.
"Apa kamu sudah tau anak kelas 1 yang mati bunuh diri disini?" tanyanya bersemangat. Tanda ia ingin menggosipkan seseorang.
"Tania sudah tau dari aku" jawab Karen ikut bersandar di dinding pembatas disebelah kananku.
"Tapi Tania ga kasih tau kan kenapa dia bunuh diri" ucapan Vani menarik perhatianku.
"Memang kenapa?" tanyaku dengan nada datar. Aku menahan diri agar tidak terlihat terlalu ingin tahu. Entah kenapa aku masih ingin menyimpan rahasia jika aku adalah kakak Kania.
Vani mencodongkan tubuhnya ke arah kami. Lalu dengan suara pelan ia menceritakan semua yang ia dengar dari teman baik adikku.
"Si anak kelas 1 itu bunuh diri karena hamil anak salah satu guru di sekolah kita. Kata sahabat baiknya, ia cerita kalau guru itu ga mau bertanggung jawab dan menyuruh agar diaborsi.
Hatiku panas mendengar kebohongan yang diciptakan oleh orang yang mengaku sahabat adikku. Siapapun dia harus diberi pelajaran!
"Masa sih? Siapa gurunya?" Tanya Karen mewakiliku.
"Itu dia masih rahasia. Kata sahabat baiknya, ia ga mau kalau nama baik anak kelas 1 itu dan guru yang menghamilinya rusak. Ia ingin nama baik mereka terus terjaga"
Tidak ingin merusak nama baik?! Pembohong! Sahabat macam apa yang berkilah agar nama baik adikku terjaga tetapi menyebarkan berita bohong yang tidak benar!
Jika Kania hamil, tentu akan ada hasil pemeriksaan dokter sewaktu jenasahnya dibawa ke rumah sakit. Tentu kami selaku keluarganya lebih dulu tahu.
Ingin sekali bibir ini mengatakan kalau itu semua tidak benar. Tetapi lagi-lagi seakan ada yang menjahit bibirku untuk diam. Hanya bisa mendengarkan cerita kebohongan yang Vani katakan.
"Menjijikan kan? Huh! Pantas aja dia bunuh diri karena malu dan patah hati"
Aku menatap tajam kearah Vani. Beraninya ia mengatakan menjijikan pada adikku!
"Kamu kenapa liat aku seperti itu, Tan?" tanya Vani menyadari jika aku marah padanya.
"Tidak apa-apa" lagi, aku berpura-pura. Terus berusaha meredakan emosi yang seperti badai didalam otakku.
"Kita ke kantin, yuk. Jam segini ada sahabat anak kelas 1 yang bunuh diri itu" ajak Vani yang langsung kusetujui.
Aku ingin melihat wajah sahabat palsu Kania. Orang yang menyebarkan gosip palsu tentang adikku!
*****
Komentar
Posting Komentar