Langsung ke konten utama

Nemesis - Dark 4

Sekarang kejutan apa yang harus ku berikan pada para bajingan itu? Aku bersenandung nursery rhyme kesukaan Kania. 

Hickory dickory dock,
The mouse ran up the clock,
The clock struck one
The mouse ran down,
Hickory dickory dock

Aku mengambil cutter yang ada di dalam laci mejaku. Lalu mengasah 5 pensil jadi sangat tajam. Mengagumi pensil yang sebentar lagi akan bersimbah darah. 

Berjalan menyusuri koridor. Dari jendela lantai atas aku melihat Helen dan Bobby bertengkar. Helen meneriaki Bobby yang sedang menelpon sambil berjalan menjauhinya. Lalu Helen kembali ke gedung. Apa aku bunuh tikus itu duluan? 

Aku kembali berjalan. Hanya beberapa langkah, di balik jendela aku melihat dua tikus di dalam. Sepertinya mereka lebih dahulu dihabisi. 

Perlahan aku masuk ke dalam ruangan siaran tanpa suara. Berjalan ke arah pasangan yang menjijikan sedang berset*buh. Dengan cepat sebelum mereka sadar, aku men*suk leher Ricko dengan pensilku. Lalu Men*suknya terus menerus hingga jatuh tidak bernyawa di atas tubuh Kelly yang berteriak dengan berlumuran darah milik Ricko. 

Kelly menatapku penuh ketakutan. "Jangan!" aku men*suk lehernya sama ssperti Ricko. Menusuknya sampai suara teriakannya hilang dan tidak bergerak. 

"Aaaaaaa!!!" teriakan menarik perhatianku. Aku menoleh ke arah dua sosok yang berdiri di depan pintu penuh ketakutan melihatku membunuh temannya. 

Aku berjalan ke arahnya tetapi dua tikus itu kabur. Ah, harusnya aku cepat membunuhnya. Tapi sekarang jadi lebih menarik. 

Aku berjalan ke arah ke ruang siaran lalu memutarkan lagu 'Hickory Dickory Dock'. Saatnya mulai pemburuan. 

Alunan lagu membuatku semakin bersemangat. Sambil bersenandung aku berjalan mendekati mereka yang kabur. 

Ayo lari! Sekarang kejar tikus! Aku mengejar mereka yang berlari turun tangga. Helen yang lambat lari menjadi incaranku. 

Dengan kekuatan penuh aku menjambak rambut Helen sebelum ia sampai tangga. Mendorongnya keras ke dinding pembatas. Lalu menendang perutnya hingga ia tidak dapat mengeluarkan suara. 

"A, ampun Tania. Aku mohon" tubuh Helen lemas akibat pukulanku yang bertubi-tubi. 

“Mohon? Apa Kania juga mengatakan yang sama saat kalian menyiksanya?” aku menarik rambut Helen agar berdiri. 

“Aku mohon Tania.. aku temanmu” Helen berusaha melepaskan cengkramanku di rambutnya.

“Teman?” ejekku lalu memukul hidungnya hingga berdarah. “Bukannya kalian ingin menargetkanku? Kalian bahkan membunuh adikku!” 

Helen terkejut dengan ucapanku. “A,adik?”

“Kania” Jawabku membuat wajahnya semakin pucat di tengah lebam dan darah di wajahnya. “Akan ku lakukan hal yang sama seperti kamu lakukan ke Kania”

“T, tolong..” Jerit Helen yang lemah. Terus berusaha memberontak. 

“Tidak ada yang akan menolongmu!” Aku mendorong tubuh Helen ke belakang dinding pembatas lalu mengangkat kakinya dan melemparkannya ke bawah.  Aku harap kepalanya lebih dulu terbentur dan m*ti sama seperti cara mereka membunuh adikku. 

Helen jatuh ke bawah bahkan ia lebih dahulu sampai dari Celine yang kabur meninggalkannya. Aku menatap Celine yang berdiri terpaku saat melihat Helen jatuh lalu mendongkak menatapku yang tersenyum ke arahnya. Ia langsung berlari ketakutan. 

Sekarang siapa selanjutnya? Aku berjalan dengan santai turun ke bawah. Sisa 4 orang lagi. Aku berjalan menuju kelas Celine yang berada di lantai bawah. Pintu terbuka lebar. Aku masuk ke dalam ruangan. Mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Ia tidak kabur ke sini? Kemana larinya tikus itu? 

Ah, hampir lupa jika gedung ini dekat dengan kolam renang. Aku yakin ia lari ke kolam renang. 

Benar dugaanku. Aku melihat Celine lari di pinggir kolam renang. Ia menantapku dengan wajah ketakutan. Aku berlari cepat dan menarik rambut Celine hingga ia terjatuh ke belakang. Mengh*ntamnya ke lantai. Menyeretnya lalu mendorongnya ke dalam air kolam dengan rambut yang masih ku cengkram. 

Aku bersenandung menyanyikan penggalan lirik lagu yang sedang mengalun.

Hickory Dickory dock,
The mouse ran up the clock,
The clock struck five,
The mouse took a dive,
Hickory Dickory dock

Terus menenggelamkannya hingga ia tidak  bergerak. 

Tinggal 3 lagi. Aku meninggalkan Celine yang tubuhnya mengapung di dalam kolam. Dimana sekarang tikus lain bersembunyi? 

Aku berjalan ke ruang kontrol tempat kamera pengintai berada. Mencari keberadaan 3 bajingan bersembunyi. 

Oh, ternyata bukan 3 tetapi 4? Huh! Pantas saja mereka dengan mudah membunuh di sekolah ini. Ternyata satpam itu juga komplotan mereka. 

Aku mengawasi gerak gerik Bobby dan Satpam yang berdiri di samping m*yat Helen. Mereka berbicara seperti merencanakan sesuatu. Lalu satpam itu berjalan bersama Bobby ke lantai atas.

Aku mencari senjata tajam dengan membuka laci. Tatapanku terhenti pada foto-foto vulgar yang berserakan di laci. Foto-foto diambil secara diam-diam dan ada yang terang-terangan. Aku mengumpulkan tumpukan foto yang tercetak. Beberapa foto diambil di kamar kecil. Lalu beberapa orang yang sama terlihat wajahnya terpaksa dan menangis menutupi area pribadi tubuhnya. 

Bajingan! Begitu banyak korban yang bajingan itu ancam dan lecehkan! Aku mengenal salah satu korbannya yang depresi hingga saat ini tidak ingin bersekolah. Beberapa kali aku datang ke rumahnya untuk mencari tahu penyebabnya, ia selalu menolak bahkan melihat seragam yang ku kenakan, ia ketakutan. Ternyata bajingan itu pelakunya! 

Aku terus melihat foto-foto dan terhenti saat foto Rani yang penuh ketakutan dan menangis. Foto ia diperk*sa oleh satpam dengan Bobby dan Rocky berdiri dan tertawa di samping Rani. Bahkan ada Helen dan Kelly duduk di kursi di foto itu sambil merokok dan tertawa. 

Mereka memang pantas m*ti! Aku mengembalikan foto-foto di tanganku ke dalam laci. Setelah semua selesai aku akan membakar semua foto-foto ini. 

Tenang saja. Aku akan membalaskan semua kejahatan mereka. 

Aku kembali mencari cutter dan menemukannya di salah satu laci. Lalu mengambil tongkat pemukul yang digantung di dinding dekat kursi monitor. Aku melirik para tikus bajingan yang mendekati ruang kontrol. Bersembunyi di balik pintu. Menunggu mangsaku masuk ke dalam. Mengalahkan mereka sangat mudah. Aku bahkan bisa menghabisi 5 orang dewasa sekaligus. 

Satpam dan Bobby masuk ke dalam ruangan. Dengan perlahan aku menutup pintu di belakang mereka. Klik. Suara pintu terkunci mengejutkan mereka. senang akan raut wajah mereka yang terkejut akan kehadiranku. 

"Jadi kamu pelakunya! Akan ku balas kematian Helen!” teriak Bobby yang murka berjalan ke arahku bersama Satpam. 

Mereka menyerangku yang ku balas mengayunkan tongkat pemukul. Lalu menghajar Bobby dan Satpam yang kalah kuat dariku. Memukul seluruh bagian tubuh mereka hingga terdengar suara patah tulang. Dengan mudah aku bisa mengalahkan mereka. 

“Hanya ini yang bisa kalian lakukan?” Aku menendang area pribadi Bobby. 

“Aghhhh!!!” jerit Bobby meringkuk kesakitan sambil memegang miliknya. 

“Kalian hanya berani beramai-ramai menyiksa orang yang lemah. Tetapi melawanku seorang diri tidak bisa?” ejekku pada satpam dan Bobby yang tidak dapat bangkit berdiri. 

“Bukankah kamu menargetkanku?” Aku menunduk  di atas Bobby yang ingin membunuhku. 

“Kita lihat siapa yang menargetkan siapa!” kali ini aku mengayunkan tongkat pemukul ke area pribadi Bobby. Mendengar jeritan kesakitannya. 

“Sepertinya kalian senang memperk*sa perempuan” sekali lagi aku mengayunkan tongkat dengan tenaga penuh ke kepala Bobby. Suara keras dan darah mengalir deras dari kepalanya. Aku menatap Bobby yang tidak bergerak. Lalu menoleh ke arah satpam yang ketakutan hingga mengeluarkan air seni.

“J, jangan.. saya hanya diminta tutup mulut oleh mereka” 

“Tutup mulut? Kamu pikir aku percaya dengan omong kosongmu?” 

“Tolong biarkan saya hidup nak Tania” mohonnya membuatku jijik mendengar namaku dari mulutnya!

“Apa kamu juga membiarkan hidup Rani?” wajahnya terkejut lalu berganti ketakutan. “Bagaimana dengan semua korbanmu yang memohon saat mereka dilecehkan olehmu, Bajingan!” dengan sekuat tenaga aku mengayunkan tongkat ke area pribadinya. Berkali-kali hingga darah mengalir deras. 

Puas mendengar teriakan kesakitannya. Puas melihat miliknya hancur. Tapi tidak puas sebelum tikus dihadapanku m*ti! Kali ini mengayunkan tongkat ke kepalanya. Berkali-kali hingga ia berlumur darah dan tidak bernafas seperti Bobby. 

Tanganku merogoh kantong celana bajingan yang tidak bernyawa. Mengambil ponsel di dalamnya dan kembali ke laci mengambil foto-foto hasil kejahatan bajingan. 

Tubuhku penuh berlumur darah dari para  tikus. Jijik. Tetapi urusanku belum selesai. Aku mencari keberadaan 2 tikus yang tersisa. Lalu menemukannya di salah satu monitor Vani dan Pablo berlari ke tempat Helen yang mati bersimbah darah. Melihat reaksi Vani yang ketakutan sambil menutup mulutnya. 

Hahaha... Aku akan memberi kejutan untuk dua tikus itu.  

Aku keluar dari ruang kontrol menuju parkir mobil dengan membawa tongkat pemukul yang berlumuran darah. Aku berjalan menuju parkir mobil milik Pablo. Menggunakan jepit rambut aku berhasil membuka pintu mobil dan masuk ke kursi belakang. Meletakan tongkat pemukul di lantai mobil dan memasukan foto di saku belakang jok mobil. Sekarang hanya menunggu 2 tikus masuk perangkap. 

15 menit berlalu, dua bajingan ku tunggu berlari ke parkiran. Meski mereka tidak melihatku karena  kaca mobil milik Pablo aku tetap bersembunyi di belakang menunggu sampai waktu yang tepat setelah Pablo dan Vani masuk ke dalam mobil. 

"Sial!" Maki Pablo terdengar suara kunci mobil dimasukan ke kunci kontak mobil. “siapa yang bunuh Helen dan lainnya?”

“Jangan pedulikan itu! Ayo cepat pergi dari sini!” Perintah Vani yang panik memburu Pablo menjalankan mobil. 

"Apa kamu bisa diam!” bentak Pablo yang ikut panik. 

“Pembunuhnya masih berkeliaran dan kamu minta aku diam?! Cepat jalan!” 

Dari arah belakang, aku duduk mendekati Pablo. Saat mereka lengah bertengkar, aku men*suk pundak Pablo di bawah teriakan Vani yang terkejut menatapku men*suk pacarnya. 

“Aghhhh!!” Pablo kesakitan sambil memegang pensil yang masih men*ncap di pundaknya. 

Vani berlari keluar dari mobil lebih dahulu meninggalkan Pablo. Aku membiarkan Pablo keluar dengan menarik pensil di pundaknya yang terluka.  

Dengan tenang aku keluar dari mobil dari kursi belakang dan masuk ke kursi pengemudi. Menghidupkan mesin mobil dengan kunci yang tergantung di kunci kontak mobil. Aku memundurkan mobil dengan kecepatan penuh lalu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menabrak Pablo. 

Tubuh Pablo terpelanting hingga ke belakang mobil. Sekarang giliran Vani. Aku melajukan mobil ke arah Vani yang berteriak meminta tolong menuju halaman depan sekolah. 

“Ahhhhh!!!!!” Vani menjerit saat mobil ingin menabraknya. Hampir jika aku tidak sengaja mengerem. Vani menunduk ketakutan memegang kepala dengan kedua tangannya. 

Sangat lucu. Betapa hebat dan arogannya mereka saat bertaruh menghacurkan dan membunuh orang lain. Tetapi saat mereka menjadi target, mereka hanya sekumpulan tikus yang mudah dibasmi. 

Aku keluar dari mobil. Berjalan dengan tenang ke arah Vani yang  menatapku balik dengan ekspresi ketakutan. 

“T,tania..”  Vani berdiri dan mudur ke belakang saat aku mendekatinya. “Kenapa kamu membunuh Helen dan Pablo?!”

“Kenapa? Bukannya kalian senang membunuh. Kenapa saat kalian dibunuh malah ketakutan” jawabku berhasil membuat wajahnya terkejut karena aku tahu kejahatan mereka.

“Tania, aku sahabatmu”

“Karen bukan sahabatmu? Aku juga bukan sahabatmu?” Balasku semakin membuatnya ketakutan. 

Ia berbalik lari. Ternyata ia tidak selamanya bodoh. Aku  mengejar Vani. Menjambak rambutnya. Ia berusaha memberontak dan memukulku. 

“Aghhhhh!!!!” jerit Vani setelah aku men*suk pensil ke pundaknya. 

Aku mendoronganya hingga jatuh ke aspal. Meski ia merangkak kabur dariku, aku menendang tubuhnya agar menghadap ke arahku. 

"Bukan kah kamu ingin merusak wajah Karen?" aku mengambil cutter di kantong rok ku. 

"T, tidak. Jangan.. Aku minta maaf" 

"Apa aku salah dengar? Kamu meminta maaf?"  aku menunduk di atas Vani. 

Ia berusaha merebut cutter di tanganku. Hanya saja tenaganya tidak sebanding denganku. Aku mengarahkan cutter ke wajahnya. Menikmati ekspresinya yang ketakutan. Dengan pelan aku meng*ris wajah Vani dari pelipis sampai ke dagunya. Merusak wajah kebanggaannya. 

“Ahhhhhhh!!!!” jerit Vani seperti lolongan anjing begitu nyaring.  “Wajahku!!!!” teriaknya sambil memegang wajahnya yang berdarah.

"Aku akan biarkan kamu hidup. Aku akan biarkan orang melihat wajahmu seumur hidupmu!"  ucapku sambl berdiri dan menendang tubuh Vani. 

Akhirnya semua berakhir. Aku ke dalam mobil Pablo. Menghidupkan mesin mobil  dan melajukannya ke pinggir kota. Aku keluar dari mobil dengan pematik api milik Pablo. Mengambil foto-foto di dalam kantongku dan membakar semuanya. 

Dengan ini tidak akan ada seorangpun yang melihat foto-foto milik korban bajingan. Lalu mengeluarkan ponsel milik bajingan yang penuh dengan foto para korban. Memoto dan mengirim gambar semua foto mereka sudah dibakar.

Foto kalian akan dihapus dari ponsel bajingan ini’ 

Mengirim pesan ke semua korbannya. Lalu menghacurkan ponsel dengan tongkat yang ku bawa. Semoga saja semua korbannya sedikit lega dengan yang aku lakukan. Meskipun aku tidak bisa menghapuskan pelecehan dan trauma yang mereka alami. 

Aku kembali ke dalam mobil lalu mengambil ponsel di kantong rokku. 

"Halo, pa" 

"Ada apa Tania?" tanya papa di seberang yang terdengar sibuk dengan pekerjaannya. 

"Aku menghabisi orang-orang yang sudah membunuh Kania" 

"Apa?! Jangan bercanda!" 

"Pa, aku akan menyerahkan diri. Sampai bertemu di kantor polisi" ucapku pada papa yang berteriak di seberang sebelum mematikan sambungan telepon. 

Menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobil ke arah kantor polisi dengan tubuh bersimbah darah. Aku tidak takut dihukum penjara atas perbuatanku. 

Meskipun aku tahu papa bisa mengatasi semua dengan menghilangkan bukti, tetap saja aku pikir aku bisa bertanggung jawab. Aku tidak ingin menjadi para tikus bajingan yang bersikap biasa  setelah membunuh orang tidak bersalah. Aku ingin semua orang tahu betapa bejatnya mereka! aku ingin semua orang tahu jika aku membunuh para iblis itu! 

Aku ingin semua orang tahu jika aku membalaskan dendamku pada orang yang membunuh adik yang ku sayangi, Kania. Membersihkan nama Kania dari fitnah yang beredar. Memberitahu semua orang bahwa Kania anak perempuan Nicholas Rhamnus, adik kandung dari Tania Rhamnus.  


*******

Previous             Index              Next       

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NEMESIS

RyuKuni Game Chapter 2

The Victim