Kali ini aku kembali diputusi hukuman 5 tahun penjara. Tetapi kali ini aku bukan Giska yang dulu
begitu bodoh dan lemah. Sekarang, siapapun yang menyerangku, ku balas hingga
mereka babak belur.
Terutama Ibu
Cecil, Pamela yang satu penjara denganku. Aku tidak akan menyia-nyiakan setiap
kesempatan untuk menghajarnya sama seperti yang ia lakukan padaku dulu.
"Boss." Salah seorang tahanan yang satu sel denganku berbisik sambil menyapu di
sampingku.
"Musuh
boss"
Aku melirik Pamela yang memakai baju tahanan dengan wajah masih lebam di halaman yang jauh
dari tempat kami.
"Tunggu
sampai ia ke kamar kecil."
Saat kami
istirahat bekerja, Pamela berjalan ke kamar kecil dengan dua orang teman
selnya.
Kami berjalan
mengikuti ke kamar mandi. Begitu sampai masuk ke dalam aku menahan Pamela yang baru saja keluar dari kamar kecil.
"Mau
kemana?"
"Giska!
Suamiku tidak akan tinggal diam!"
"Aku tidak
peduli." Balasku sambil tersenyum menantangnya. Suaminya tidak bisa melindunginya. Bahkan keluarga besarnya takut dengan kemarahan nyonya Vivian dan keluarga Permana jika membantunya."Angkat bajunya!"
"Kamu
gila!" Pamela berteriak ketakutan. "Lepaskan!" Kedua anak buahku menahan Pamela agar tidak bergerak dan menarik pakaian Pamela sampai menutupi atas kepala. "Tolong!"
Berisik! Aku menyumpal
mulut Pamela dengan kain bajunya. Mengingat saat bos Gita melakukan hal yang sama padaku.
"Seperti
yang aku bilang. Aku akan bikin tato cantik di punggungmu."
Aku mengambil
rokok yang ku siapkan dan menyalakannnya. Menyudut rokok yang membara di
punggung Pamela dengan membentuk huruf awal namanya. Pamela terus berusaha melepaskan diri tetapi cengkraman kedua anak buahku begitu kuat sehingga ia tidak dapat bergerak.
"Ini masih
belum seberapa. Masih banyak yang harus kamu bayar." Ucapku setelah selesai membuat tato di punggungnya. Mematikan sisa rokok dengan menginjaknya di hadapan Pamela.
"Oh, aku
lupa. Aku meminta keluarga Permana agar Cecil dipindahkan ke penjara ini." Aku tersenyum senang saat melihat reaksi Pamela yang terkejut mendengar berita bahagia.
"Berterima
kasih lah padaku. Kalian akan berkumpul di tempat ini sebentar lagi."
Pamela bangkit
berdiri ingin menghajarku jika tidak ada salah satu anak buahku menahannya.
"Jika kamu
berani menyakiti Cecil lagi aku akan membunuhmu!"
"Membunuhku?
Coba saja kalau kamu bisa."
"Apa-apaan
ini!" Teriak sipir di depan pintu kamar kecil. Mereka menolong Pamela yang terluka sedangkan aku dan anak buahku dihukum di ruang hukuman.
Setelah berminggu akhirnya aku keluar dari ruang hukuman. Salah seorang anak buahku yang lebih dulu dibebaskan
menyambutku yang baru masuk ke ruang rekreasi. Suara gaduh dan teriakan menarik
perhatianku.
"Boss, berita
besar"
"Ada
apa?"
"Musuh boss
jadi gila!"
"Gila?" Bukan hal yang aneh jika ia gila. Aku menatap kerumbunan dimana Pamela berteriak histeris di depan tv dan ditahan oleh sipir.
"Iya.
Anaknya mati dalam perjalanan menuju ke tahanan sini"
"Mati?" Ah, sayang sekali Cecil mati bukan oleh tanganku.
"Iya.
Kecelakaannya mengerikan. 3 orang tahanan meninggal"
Aku menatap tv
yang masih memberitakan kecelakaan mobil tahanan. Nama Cecil terpampang di
layar lalu dua tahanan selain Cecil yaitu Celine Monika dan Lily Kenrick?
Tidak mungkin!
Aku menerobos orang-orang dan mendekati tv. Lily Kenrick. Itu benar-benar Lily!
Semua begitu cepat. Rasa sakit menyengat di leherku. Aku membalikan tubuhku menatap ke arah orang yang menusukku. Pamela? di tangannya memegang belati kecil ingin menusukku kembali jika tidak di tahan oleh sipir. Entah darimana Ibu Cecil mendapatkan benda tajam hingga dapat menusuk leherku. Aku memegang leherku yang terluka penuh dengan darah yang mengalir tidak dapat berhenti.
"Ini balasan
dari Cecil!" Teriaknya yang ditarik oleh sipir.
"Bahkan jika
aku mati sekalipun apa kamu yakin kamu bisa hidup tenang?" Balasku dengan
nafas terengah.
Aku tertawa.
"Ingat. Keluarga Permana dan keluarga Brata tidak akan diam setelah kalian
membunuh anak kesayangan mereka. Terutama nyonya Marta dan nona Gwen."
"Sayangnya
bukan aku yang membunuh Cecil. Seandainya aku menusuknya berkali-kali...
Ugh!" Darah mengalir keras dari mulutku. Aku terjatuh ke atas lantai. Aku tahu hidupku akan berakhir.
Beberapa sipir dan anak buahku mengelilingiku. Berteriak sambil menekan lukaku dengan kain agar darahku berhenti mengalir. Berusaha menyelamatkanku.
Aku ingin mengatakan jika semua percuma. Yang aku pikirkan akhir hayatku darimana Ibu Cecil mendapatkan belati? Suami dan anak lelakinya tidak bisa mengunjunginya karena sibuk menghadapi kebangkrutan. Bahkan semua pengunjungnya diawasi oleh keluarga Permana.
Siapa dalang dibalik semuanya? Kenapa Pamela bisa mendapatkan belati untuk membunuhku meski keluarga Permana dan Brata menekan perusahaan suaminya?
Siapa?
The Victim - End
Komentar
Posting Komentar