Langsung ke konten utama

Cinderella Boy Part 15

 Semilir angin yang berhembus dan udara yang dingin menembus jaket yang tebal gue pakai. Sial! Kenapa hari pertama kami datang malah harus ikut acara menakutkan dari anggota OSIS. Ini bukan berlibur tapi penyiksaan!

Mengalahkan semua kelas dengan vote terbanyak bikin kami semua senang bisa menikmati pantai dengan teman sekelas. Berkhayal menikmati pasir yang putih dan berenang di air laut. Bisa menemani Laura menyusuri pantai.

Tapi khayalan cuma khayalan! Begitu sampai kami diajak makan malam di hotel lalu diminta berkumpul di depan gua yang menakutkan. Gua ini menjadi tempat wisata terkenal bagi orang-orang yang tertarik uji nyali. Gue ga ngerti kenapa ada orang yang mau masuk ke dalam!

"Vio, lo ga takut, kan?" Goda Tom bikin gue kesal. Udah tau gue paling takut dengan yang namanya horor!

"Lo pikir lo berani?"

"Jelas gue lebih berani dibandingkan lo. Tuh, cewek-cewek di kelas aja lebih berani dari lo"

Sialan si Tom. "Lo ga liat gue semangat gini!" gue memasang senyum lebar yang dibalas tawa oleh Tom.

"Selamat malam semua!" Mora anggota OSIS yang terkenal sebagai MC di tv nasional berteriak memakai TOA. "Malam ini kita akan challage kalian semua di Haunted cave" Mora menunjuk goa yang ada di belakang hotel di tepi pantai.

"Yeah!" Teriak Dion teman sekelas kami berteriak paling kencang.

"Kenapa Dion semangat? Dia kan terkenal paling penakut di kelas" Tanya Gue yang heran dengan tingkah Dion.

"Lo ga tau?" Gue menggelengkan kepala. "Siapa yang beruntung bakal berpasangan dengan anggota OSIS"

"Pantes aja"

"Di depan ada dua kotak. Kotak Biru untuk laki-laki dan kotak berwarna pink untuk perempuan" Mora menunjuk kedua kotak yang ada di atas meja di hadapannya. "Tetapi ada satu pasangan yang semuanya laki-laki"

"Wuuuuuu!!!" teriak kami yang ada dibarisan. Dari sekian banyak orang yang hadir tuh pasangan paling sial ga dapet pasangan dengan perempuan.

"Sekarang yang paling di tunggu. Siapa orang yang paling beruntung berpasangan dengan anggota OSIS terutama ketua OSIS kita yang cakep"

Mora memasukan tangannya ke dalam kotak kaca yang didalamnya ada nama-nama semua orang yang hadir. Membacakan nama-nama satu persatu. Orang yang dipanggil pindah barisan dengan pasangan mereka.

Mora membuka secarik kertas dan tersenyum lebar. "Wah, ini yang di tunggu. Ketua OSIS kita yang tercinta, Audrey" Ka Audrey hanya diam berdiri di samping Mora.

"Siapa nih pasangannya ya?" Semua cewek berteriak mereka jadi pasangan ka Audrey.

Mora mengambil nama di dalam kota dan membuka kertas. Lalu melirik ka Audrey lalu terdiam sesaat. "Vicha!"

"Apa? Vicha?" Semua cewek fans ka Audrey menoleh sinis ke arah Vicha.

"Gue? kenapa gue sial banget" Vicha keluar barisan. Berjalan menuju ke barisan dengan ka Audrey berjalan di sampingnya. Sejak kapan ka Audrey bisa jalan sebelahan dengan Vicha? Malah mepet-mepet lagi.

"Lo ga merasa aneh dengan ka Audrey ke Vicha?"

"Lo yang aneh baru nyadar sekarang"

"Maksud lo?"

"Ka Audrey suka dengan Vicha"

"Hah?! Ga mungkin!"

"Kita liat aja."

Orang-orang yang berbaris semakin sedikit. Tinggal Merry, Laura, Kelly dan 5 cowok termasuk gue di barisan. Tunggu! Berarti ada 1 pasangan yang cowok semua. Gue melirik Tom, Tory, Dion dan Andi yang tersisa. Gue berharap gue berpasangan dengan Kelly.

"Tom" Panggil Mora bikin Tom kaget langsung angkat tangannya. "Menurut lo, lo bakal pasangan sama siapa?" Tanya Mora pada Tom yang terkenal dekat dengan cewek-cewek OSIS.

"Siapa aja boleh yang penting pemberani" Jawab Tom ga peduli.

"Lo takut?"

"Bukan. Gue ga mau badan gue disentuh apalagi dipegang. Hanya cewek gue suka yang boleh pegang badan gue yang berharga."

"Sapa juga yang mau pegang lo!" kesal Merry, anggota OSIS yang disahut cewek-cewek yang kesel dengan ucapan Tom.

"Lo jadi enemy mereka."

"Biarin. Yang penting bukan ka Clarissa yang benci gue."

"Pasangan Tom, Laura"

Kenapa dari sekian cewek, Laura jadi pasangannya?! "Ini ga adil!"

"Dunia ini emang ga adil, Viola" ejek Tom hampir gue tendang. Ia malah lari mengejek gue.

Mora kembali memasukan tangannya di kotak. Gue benar-benar deg-degan. Berharap nama gue dipanggil.

"Dion" Dion berteriak kegirangan namanya dipanggil.

"Yah" Gue dan Andi iri dengan keberuntungan Dion.

"Pasangan Dion.." Mora mengambil nama di kotak pink. "Merry"

Merry mendatangi Dion yang tersenyum lebar. Berjalan meninggalkan kami yang hanya berharap menjadi pasangan Kelly.

Seakan tahu kegelisahan kami, Mora maju dekati kami. "Menurut lo, lo pasangan dengan siapa?"

"Tentu aja dengan anggota OSIS" teriak Andi yang terus berharap kalau ia bisa berpasangan dengan salah satu anggota OSIS yang tersisa.

"Semangat banget ya. Semoga berhasil."

"Kalau lo, Tory?"

"Kalau gue siapa aja boleh"

"Vio, menurut lo akan berpasangan dengan Kelly?" Mora berbalik bertanya ke gue.

"Iya" Jawab gue malu-malu. Lebih baik pasangan dengan Kelly dibandingkan jadi pasangan ngenes.

Mora kembali ke depan. Mengambil secarik kertas. "Andi"

"Semoga gue pasangan dengan Kelly. Semoga Andi pasangan dengan Tory" Gue menutup mata. Mulut gue komat kamit mengucapkan doa yang sama.

"Menurut gue, kita bakal berpasangan" ucap Tory di dekat gue yang tadinya nama kelly berganti dengan nama Tory.

"Kelly"

"yess!!!" Andi berteriak kegirangan bahkan sampai berlari mengelilingi gue dan Tory.

"F*ck!" Maki gue yang harus berpasangan dengan Tory. Gue menendang Tory. "Kenapa lo ganggu doa gue?!"

"Hahaha... doa lo jahat"

"Kenapa lo bisa pasangan sih? Kenapa gue ga pasangan dengan anggota OSIS?"

"Gue kan juga anggota OSIS" Sial! Gue lupa!

"Awas lo dekat-dekat gue!" Gue menjaga jarak dari Tory.

"Sekarang sesuai urutan nama tadi masuk ke dalam"

Itu artinya gue dan Tory paling akhir masuk ke dalam. Semakin gue menunggu giliran, semakin jantung gue berdegup kencang. Apalagi mendengar teriakan dari dalam yang semakin lama semakin bikin gue takut. Apa gue pura-pura sakit perut?

"Lo mau pura-pura sakit?"

"Kata siapa? Gue ga sabar pengen masuk ke dalam!"

Gue masuk ke dalam lebih dahulu dari Tory. Baru satu langkah, gue mundur. Gila! Gelap banget! Biar ada obor dan senter tetap aja masih gelap.

"Kenapa?"

"Gue nungguin lo! Lo lama banget! Lo pasti takut masuk"

"Iya, gue takut masuk" Tory memegang lengan gue.

"Lepasin tangan gue!"

"Ga. Vio, lo duluan ya. Lo kan pemberani"

"Huh!" Gue berjalan dengan badan tegap. Dalam hati gue ketakutan.

Saat di depan jalan gue melihat sosok diam. Apa itu hantu. "Tor, lo liat yang gue liat ga?"

"Engga"

"Eh, dia ke arah sini"

"Vio, Tory" Panggil suara yang gue kenal.

"Kelly? Lo kenapa sendirian di sini?"

"Andi kabur tinggalin gue"

"Parah Andi! Lo jalan sama kita"

"Makasih, Vio" Kelly berjalan disisi kiri gue. kami bertiga kembali melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba kepala jatuh tepat di depan kami.

"Wa!!!!" gue berteriak kencang dan menendang kepala yang ada di depan gue.

"Hebat lo, yo"

Huh! Sapa suruh bikin gue takut! Kali ini dua orang berdiri di depan kami. Apa gue harus hajar mereka?

"Vio?"

"Vic! Lo kok masih ada di sini?"

"Gue nungguin lo"

"Ayo jalan!" kesal ka Audrey. Bahkan dalam cahaya yang temaram gue bisa merasakan tatapan tajam ka Audrey ke gue. Apa salah gue?

Semua hantu yang muncul kalah dengan aura ka Audrey yang lebih kuat seperti raja para hantu. Sampai di persimpangan ka Audrey berdiam lama.

"Kenapa? Petunjuknya lewat kiri" Ucap Vicha menunjuk plang petunjuk yang ke arah kiri.

Ka Audrey tersenyum penuh arti. Pasti ia merencanakan sesuatu!

"Ayo!" Ka Audrey jalan lebih dulu. Layaknya pemimpin dengan kami mengekorinya di belakang.

Lama kelamaan ga ada cahaya obor. Gue memegang senter di tangan gue. "Kenapa disini gelap?" Jalannya juga ga selebar tadi.

"Apa kita salah jalan?" Tanya Vicha yang juga merasa janggal.

"Bukannya lo yang bilang kita lewat jalan kiri?"

"Gue Cuma baca panah petunjuknya arah ke kiri"

"Kamu mau jalan terus atau balik?" Tanya ka Audrey menantang Vicha.

"Kalian?" Tanya Vicha ke arah kami. Dari belakang Vicha ka Audrey menatap tajam kami. Seakan memberi tanda agar kami terus jalan.

"Jalan. Kita jalan terus" Ucap gue menyenggol Tory.

"Gue ikut Vio"

"Sama, gue juga ikut Vio" ucap Kelly menunduk dari pandangan ka Audrey.

"Kalau gitu kita jalan terus"

"Lo di depan" Ucap ka Audrey ke Vicha yang langsung Vicha turutin. Ka Audrey menatap kami sambil tersenyum puas. "Jalan" Ia jalan di sebelah Vicha. Seakan memberi tanda kami harus jaga jarak dengan mereka.

"Kenapa ka Audrey jahat banget" Bisik Kelly ke telinga gue. Yap. Emang benar, ka Audrey jahat.

"Menurut kalian ka Audrey suka Vicha?"

"Lo baru nyadar?"

"Semua anggota OSIS tau ka Audrey suka dengan Vicha. Ka Audrey terkenal kejam dan suka dekat cewek Cuma Vicha yang ia dekatin" Jelas Kelly bikin gue sadar kalau selama ini ka Audrey ternyata emang anggap Vicha lebih spesial dibandingkan ke cewek manapun bahkan ke ka Clarissa.

"Wow!" Kemana aja gue selama ini ga tau perasaan ka Audrey. Pantas aja ka Audrey benci dengan gue kalau gue terlalu dekat dengan Vicha. Apalagi kalau Vicha perhatian sama gue. Mulai sekarang gue harus jaga jarak dengan Vicha.

"Yuk ikutin mereka" Kelly mengajak kami kembali jalan mengikuti Ka Audrey dan Vicha yang sudah beberapa meter di depan.

"Vio" Kelly memeluk lengan gue. Perasaan takut gue hilang. "Gue rasa kita tersesat"

"Apa lo mau bilang ke Audrey?" Tanya Tory menujuk ke arah ka Audrey dan Vicha yang berjalan di depan kami.

"Lo aja."

"Ga, gue ga mau kena murka kakak lo"

"Ya, udah kita ikutin mereka"

Makin lama jalan semakin menyempit. Bahkan semakin menurun ke bawah. Beberapa kali kami hampir terjatuh saat jalan turun. 

"Drey, gue rasa ini bukan jalannya"

"Kita balik" Ucap ka Audrey bikin gue lega. Tiba-tiba tanah yang kami pijak bergetar dan dibelakang kami batu dari atas jatuh.

"Lari!" Gue menarik tangan Kelly dan Tory lari ke depan dengan ka Audrey lebih dulu menarik tangan Vicha.

Kami berhenti lari setelah getaran di gua reda. Tetapi di belakang kami sekarang batu-batu menutupi jalan kami kembali.

"Vio! Lo ga apa-apa?" Ka Audrey memegang wajah gue. Memeriksa tubuh gue. Terharu ternyata ka Audrey masih mikirin gue.

"Gue ga apa-apa, ka"

"Apa ada yang terluka?"

"Ga ada" Tory dan Kelly menggelengkan kepala. 

"Drey. Di sini ga ada sinyal" Tory memeriksa jaringan ponselnya. "Sekarang gimana?"

"Kita jalan terus" Ka Audrey meraih tangan Vicha.

"Eh, Kenapa pegang tangan gue?"

"Kita harus pegangan. Bisa aja ada gempa kedua"

Kami mengikuti Ka Audrey yang memegang tangan Vicha jalan kembali di depan. Ka Audrey benar. Gue menggengam tangan Kelly dan Tory. Kalau terjadi sesuatu kami ga akan terpisah.

Entah berapa lama kami berjalan akhirnya kami merasakan hembusan angin kuat dan suara ombak.

"Jalan keluar!" Kami berlari mengikuti suara ombak di depan. Ternyata memang jalan keluar dari gua yang mengerikan.

"Selamat!" gue langsung berlutut mencium pasir. "Akhirnya kita bisa keluar!" Gue pikir gue akan tersesat ga bisa keluar dari gua itu!

"Tapi kita sekarang dimana?" Tanya Kelly menyadarkan gue masalah baru yang kami hadapi. Di sini kosong ga ada bangunan apapun. Hanya ada pepohonan, bebatua dan tebing yang tinggi.

"Kita istirahat dulu di sini" Ucap ka Audrey menunjuk arah menjauh dari tepi pantai. "Air laut bisa naik kalau kita terus di sini"

Kami mengikuti ka Audrey. Berbaring dengan apapun yang bisa kami pakai. Lelah setelah berjam-jam jalan di dalam gua. Mengistirahatkan tubuh dan pikiran kami yang terlalu tegang setelah menjalani pengalaman yang mengerikan. Semoga aja pihak sekolah cepat temuin keberadaan kami.

*******

Previous        Index        Next

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NEMESIS

RyuKuni Game Chapter 2

The Victim