Langsung ke konten utama

Tory - Part 13

Dua hari berlalu, banyak hal yang harus gue kerjakan. Pikiran dan tenaga gue terbagi antara keselamatan Laura, pekerjaan dan project yang hari ini akan dipresentasikan di perusahaan asing terkemuka.

Sialnya, kabar yang diberitahu oleh David bukan kabar yang ingin gue dengar. Bukan hanya proposal kami gagal tetapi penawaran kami ditiru oleh perusahaan Daivat milik Arden!

Bagaimana bisa Arden mendapatkan rencana kami?! Bahkan sama persis! Bahkan hargadi proposal mereka tidak jauh dari yang kami tawarkan! Dengan mereka mempresentasikan lebih dahulu, tentu saja milik kami terlihat seperti tiruan!

Sial! Siapa pengkhianat yang membocorkan proposal kami!

Gue ga bisa membendung amarah gue di ruang rapat. Semua team dan asisten gue hanya diam menunggu amarah gue meledak.

"Saya berikan kesempatan. Siapa yang membocorkan proposal kita, tidak akan saya laporkan ke polisi."

Semua hanya diam sambil melirik satu sama lain.

"Tidak ada?"

Thesa mengangkat tangannya. "Saya.. saya curiga dengan ibu Laura."

Gue menatap tajam Thesa yang ga berani menatap gue. Beraninya ia menuduh Laura!

"Saya meletakan proposal di meja bapak sebelum ibu Laura datang ke kantor hari Senin."

"Tidak ada bukti kalau Laura membuka proposal itu!"

"Tapi pak, selama ini tidak pernah satupun proposal team kita bocor ke perusahaan lain." Ucapan lancang Thesa meyakinkan semua yang hadir.

Marah! Jelas gue marah mereka semua menuduh Laura. Tetapi akal sehat gue menyuruh gue agar tetap tenang.

"David. Tolong cek CCTV di ruangan saya."

"Siap, Pak" David membuka program di layar laptopnya. Rekaman CCTV ruangan gue bukannya dimiliki gue tetapi David sebagai asisten kepercayaan gue dan security perusahaan.

"Maaf, Pak. Rekaman CCTV tidak ada dari Senin pagi. Baru aktif kembali hari Selasa."

Tidak ada rekaman dari Senin pagi? Jelas ada yang merusak CCTV di ruangan gue. Tepat disaat gue sibuk dari pagi dan besoknya sibuk membantu Laura pindah ke rumah gue.

"Pak, hari Senin pihak security bilang CCTV di ruangan Bapak rusak. Hari Selasa baru di perbaiki. Makanya di hari itu tidak ada rekaman apapun di ruangan Bapak."

Gue ga percaya semua kebetulan. Pasti ada yang sudah merencanakan semuanya jauh hari. Lalu menuduh Laura agar gue membenci Laura.

"Kenapa kamu tidak melaporkannya ke saya?"

"Maaf, Pak. Saya lupa. Hari itu juga saya jarang bertemu dengan Bapak."

Apa dia pikir alasannya bisa gue percaya begitu aja? "David, cek sekali lagi." Gue memberi tanda ke arah David. Bukan mencek rekaman tetapi Thesa.

Hanya ia orang yang paling gue curigai. Dari keterangannya sampai ia menuduh Laura. Ia jelas tahu selama menjadi asisten gue, apapun masalah yang ada, ia harus melaporkannya ke gue atau ke David.

Bahkan Hans yang gue percaya kerja di luar kota sekalipun akan melaporkan apapun ke gue atau ke David. Tidak hanya agar salah satu dari kami tahu tetapi juga untuk menyetujui keputusan.

David memberikan laptopnya ke hadapan gue. Ada aliran dana masuk ke rekening Thesa. Dana dalam jumlah yang sangat besar.

"Tolong print kan."

"Baik, Pak." David mencetak dan membagikan ke semua yang hadir. Semua terkejut terlebih Thesa. Tangannya bergetar memegang selembar kertas dengan angka sangat besar bagi seorang pegawai.

"Ini.. ini hasil menjual tanah warisan orang tua saya."

"Tanah? Bukannya kamu pernah cerita orang tua kamu hanya memiliki rumah sebagai warisan?"

Thesa pernah mengatakannya saat kami makan malam bersama seluruh team. Ia ingin menabung dan membelikan orang tuanya tanah untuk mendirikan usaha mereka di masa tua.

"Saya tidak ingin mendengar banyak alasan. Kamu katakan sekarang atau kamu saya jebloskan dalam penjara!"

"Ingat, Thesa. Mudah untuk saya mencari tahu siapa pengirim uang itu semudah saya menemukan rekening lain milikmu!"

"Ampun pak Tory. Saya minta maaf. Saya benar-benar tidak bermaksud mengkhianati kepercayaan Bapak!" Thesa menangis memohon maaf. Apa ia pikir tangisannya bisa mengganti kerugian dan citra perusahaan gue?!

Bukan hanya gue, tetapi semua orang yang sudah bekerja keras berhari-hari sampai lembur untuk menghasilkan project yang penuh prospek untuk menang pun marah dengan apa yang ia lakukan!

Jika ia ga ketahuan, ia pasti ga merasa bersalah dengan yang ia lakukan. Malah ia dengan senang menghamburkan uang yang ia dapatkan!

"Saya tidak butuh tangisanmu! Saya mau tahu siapa saja yang terlibat!"

Thesa menahan isak tangisnya. "Pak Lukman dari teknisi, Pak Sarif bagian security dan Bu Paris." Ucapnya dengan suara kecil saat menyebut nama Paris.

"Paris?"

"Saya memberikan data proposal ke Bu Paris."

"Pak, saya terpaksa. Bu Paris mengancam saya kalau saya tidak menurut beliau, saya akan dipecat. Orang tua saya akan celaka."

"Kalau Bapak tidak percaya, saya punya bukti percakapan saya dengan Bu Paris." Thesa mengeluarkan USB dari kantong blazernya. Menyerahkannya ke arah gue.

David mengambil USB dari tangan Thesa. Menyambungkannya ke laptop lain yang ada di ruang meeting. Waspada jika USB itu memiilki virus.

"Ini data yang nona minta" Suara Thesa terdengar gugup di rekaman yang diputar.

"Apa ada yang curiga?"

"Tidak ada, nona. Tapi gimana kalau Pak Tory tahu saya pelakunya?"

"Tenang. Gue sudah menyiapkan alibi buat lo. Ada satpam dan teknisi merusak CCTV di ruangan Tory waktu Laura datang ke perusahaan kalian nanti."

"Lo bisa menuduh Laura pelakunya. Lagian Laura punya dendam dengan Tory sudah bikin perusahaan keluarganya hampir bangkrut."

"Tapi..."

"Gue ga mau dengar! Lo pintar, lo tau yang harus lo lakuin agar Tory percaya ucapan lo."

"Baik, nona. Kalau boleh saya tau data itu akan nona gunakan untuk apa?"

"Jangan banyak tanya! pokoknya nanti akan ada orang yang kasih imbalan ke lo!"

"Ingat, jangan sebut nama gue ke Tory. Kalau engga, gue akan biarin lo dan orang tua lo begitu aja! Kalau perlu gue akan celakain lo semua!"

"Iya, nona. Saya mengerti." Ucap Thesa dalam akhir rekaman suara. 

"Saya mohon, Pak. Saya benar-benar tidak ingin sekalipun membocorkan proposal itu. saya terpaksa."

"Saya mohon tolong orang tua saya. Saya takut Bu Paris melakukan ancamannya."

"Ada yang tahu rekaman ini?"

"Tidak ada, Pak."

"Kalian dengar. Hanya kita di ruangan ini yang tahu rekaman ini. Kalau sampai rekaman ini bocor ataupun tiga orang itu tahu mereka pelakunya, saya bisa dengan mudah menemukan kalian sebagai komplotan mereka!"

"Kami akan tutup rapat mulut kami, Pak." Ucap Yogi sambil memberi tanda mengunci bibirnya.

"Kami janji menyimpan rahasia, Pak." Ucap yang lain yang disetujui. 

"Kamu kerja seperti biasanya sampai saya membereskan Paris." Perintah gue ke Thesa yang mengangguk lega. 

"Lalu orang tua kamu kirim mereka ke luar kota. Hans akan mengurus keamanan orang tua kamu."

"Terima kasih, Pak. Terima kasih"

"Jangan berterima kasih. Setelah semua selesai, kamu tidak akan bekerja di perusahaan ini."

"Saya mengerti. Bapak menjamin keselamatan orang tua saya, saya sangat bersyukur."

"Meeting selesai. Bersikap wajar keluar dari ruangan ini."

"Siap, Pak." Semua keluar dari ruang meeting. Terdengar suara makian dari team gue begitu keluar. Memaki perusahaan Daivat dan Arden sebagai salah satu direkturnya.

Well, benar-benar bersikap wajar untuk orang yang dicuri idenya.

"David. Tolong cari tahu semua hubungan Paris dan Arden. Laporkan ke saya segera."

"Segera saya laksanakan, Pak."

Gue tahu kalau kekuatan David sendiri mencari tahu tidak akan cukup. Ia membutuhkan bantuan asisten kepercayaan papi. Hanya hitungan beberapa jam, hasil penyelidikan David ga hanya sampai di tangan gue tetapi juga papi.

Untuk sementara, gue hanya bisa merepotkan papi untuk menghadapi direksi yang menyalahkan gue sebagai kepala team project. Sampai semua bukti selesai dikumpulkan, papi bisa membalikkan keadaan. 

Gue ga pernah tahu alasan perusahaan Daivat selalu menyerang dan menganggap kami sebagai musuh. Bahkan Arden selalu mencari gara-gara ke gue tiap kali ada kesempatan. 

Awalnya kami tidak peduli. Hanya fokus untuk terus memajukan perusahaan. seakan menganggap mereka seperti lalat yang ga berarti. Tapi kali ini perang dengan perusahaan Daivat ga akan terhindarkan. Cukup sudah kesabaran menghadapi serangan mereka. Sudah saatnya membalas semua trik dan cara kotor mereka. Sudah saatnya membalasnya hingga hanya satu perusahaan antara kami yang bertahan di kota ini!

Sudah saatnya membalas Arden sekaligus menyingkirkan Paris yang mengkhianati keluarga gue! Kesalahan fatal Paris kali ini ga akan pernah bisa dimaafkan bahkan jika opa dan oma membelanya!

******


Previous        Index        Next

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NEMESIS

RyuKuni Game Chapter 2

The Victim