"Laura! Jangan berdiri di sana! Mundur dua langkah ke belakang Paris!" Teriak pria di balik monitor kamera.
Laura yang termasuk bintang papan atas diperlakukan seperti pendatang baru yang ga tau apa-apa? Apa ia ga takut orang-orang membicarakannya di belakang? Paling tidak kalau ingin membully, seharusnya tidak seterang seperti ini?
Laura yang tadinya berdiri di samping Paris, mundur dua langkah ke belakang sesuai arahan pria itu. Ekspresi wajahnya tetap tenang meskipun ia dibentak oleh sutradara. Diperlakukan tidak adil meskipun ia yang bertahun-tahun menjadi brand ambassador produk itu malah harus mengalah dengan hadirnya Paris.
Perlu diakui sikap Laura malah bikin orang berempati padanya. Ia yang tau kalau dirinya sengaja menjadi target sutradara, tetap bersikap tenang. Tubuhnya berdiri tegak, sikapnya yang tetap anggun seperti tidak habis dimarahi.
Kalau artis lain sudah pasti membalas ataupun mengadu perlakuan sutradara. Malah bisa langsung pergi dari tempat syuting dan menolak sampai sutradara itu dipecat.
Hanya aja gue mengkhawatirkan sikap Laura malah bisa jadi bomerang baginya. Orang yang picik akan berpikir kalau ia mudah dibully!
Gue mengawasi proses syuting di balik kaca jendela di lantai dua. Melihat Laura dan Paris berdiri di pinggir kolam renang. Mengucapkan dialog yang beberapa di cut sampai mendapatkan hasil yang memuaskan untuk sutradara itu.
Tentu aja gue bisa melihat perlakuan ga adil ke Laura. Dialog yang ia ucapkan singkat. Paris lebih mendapat banyak bagian dan tentu saja kamera lebih banyak dishoot ke arahnya.
"Sekarang pindah lokasi! Ayo semua beres-beres sekarang!" Perintah pria itu dengan suara keras.
Asisten Laura, Cici yang diperkenalkan Laura saat di pesta ulang tahunnya, datang mendekati Laura. Memberikan Laura outer yang langsung dipasang. Lalu mengajak Laura langsung pergi saat Paris mendekat.
Cici sangat cepat bertindak. Ga sia-sia Laura mempekerjakannya untuk menyingkirkan peluang supaya orang-orang ga mengambil keuntungan dari Laura. Laura ga perlu memberi alasan mengindari ataupun menghadapi provokasi orang-orang terutama Paris.
"Hans, kita ikuti mereka," Gue bangkit berdiri dengan Hans, salah seorang asisten sigap memberi tau gue tempat mobil kami yang terpakir di arah lain mobil tim produksi yang akan berangkat.
Hans sudah mendapat jadwal dan lokasi syuting dari salah seorang staf. Kami lebih dahulu menuju lokasi syuting berikutnya yang menjadi lokasi akhir syuting. Lokasinya berada di salah satu pantai yang terkenal keindahannya di kota ini.
Walaupun gue harus menunggu lama tim produksi datang, gue ga peduli. Gue mau lihat apa sutradara itu berani menyulitkan Laura lagi!
Tim Laura datang lebih dahulu. Gue keluar dari mobil dan berjalan menuju mobil Laura yang terparkir ga jauh dari mobil gue.
"Tory," Panggil Laura yang terkejut akan kehadiran gue. Ia langsung membuka mobil dan meminta gue masuk ke dalam. Ia sudah berganti pakaian.
"Gue mau lihat lo kerja sekalian berlibur," Gue memberi alasan sebelum Laura bertanya.
"Kapan lo datang?"
"Tadi pagi. Gue ga bilang karena gue mau kasih lo kejutan."
"Kejutan lo berhasil. Gue ga nyangka lo mau luangin waktu buat datang,"
"Hm" Walau ekspresi di luar gue terlihat biasa tetapi gue menahan rasa bangga di wajah gue.
Ya, gue sampai minta izin papi buat libur demi datang ke sini. Meskipun awalnya papi ga izinin, tetapi setelah gue menyelesaikan semua pekerjaan gue, papi menyetujui gue libur walau cuma 3 hari. Hanya aja selama liburan gue harus stand by kalau ada kerjaan yang harus gue selesaikan.
"Lo nginap di hotel mana?"
"Hotel yang sama dengan lo. Hari ini terakhir kamu syuting kan?"
"Iya. Kalau semua lancar, hari ini kerjaan gue selesai."
"Lo mau temanin gue 3 hari ini?"
"3 hari?" Manager Laura, Deva yang duduk di kursi depan menoleh ke arah kami.
"Bisa."
"Tapi..." Laura memberi tanda ke arah Devayang langsung bungkam. "Iya, bisa."
Gue pura-pura ga mengerti dan hanya tersenyum ke arah Laura yang senang.
"Sebenarnya gue mau bikin vlog di channel baru. Vlog pertama gue pas sekali lagi di kota ini." Jelas Laura sambil tersipu. "Apa lo ga apa-apa kalau sambil ngevlog?"
"Ga apa-apa. Tapi gue ga mau terekam."
"Iya tenang aja. Nanti kalau misalnya terekam, gue akan minta editor buat edit video lo atau di blur wajah lo."
"Oke,"
"Mereka sudah datang." Deva mengingatkan kami. Mobil tim produksi parkir di dekat mobil Laura.
"Kita tunggu 15 menit di dalam mobil. Mereka juga lagi siapin alat lebih dulu." Deva memberitahu kami.
Laura hanya mengangguk dan kembali berbicara dengan gue. Ia mengajak gue makan malam di restoran yang terkenal di kota ini yang tentu aja gue setujui.
"Ayo, sudah waktunya."
"Lo mau keluar juga?" Tanya Laura begitu gue juga membuka pintu mobil.
"Gue serius bilang gue pengen lihat lo kerja."
"Baik, Tapi Apa ga apa-apa lo panas-panasan tunggu lama di lokasi? Biasanya akan ada beberapa kali take walaupun scenenya sedikit hari ini."
"Tenang aja. Gue balik ke mobil kalau gue sudah ga tahan kepanasan."
Kami keluar dari mobil. Sekilas gue melihat Deva dan dua asisten Laura berjalan penuh kemenangan.
"Laura! Kenapa kamu baru datang?!"
"Kami pertama datang ke sini" Jawab Deva langsung melindungi Laura.
Sutradara itu sengaja memarahi Laura. Padahal ia sudah tau kalau mobil Laura lebih dulu datang dari mereka.
"Kalau kalian dari tadi datang, harusnya keluar dari mobil! ga lihat kita semua di sini?!"
"Kami ga mau nanti yang ada malah menghalangi kerja tim yang sedang siapin alat." Balas Deva ga mau kalah.
"Lagipula setnya juga masih belum selesai. Paris juga belum datang"
"Laura kan senior. Ya, wajib ia harus datang lebih dahulu!"
"Saya yang minta Laura tunggu lebih dulu di mobil sampai kalian selesai siapin semuanya." Ucap gue berdiri dengan tenang di sebelah Laura.
Akhirnya sutradara itu menyadari kalau gue dari tadi ada di dekat Laura. Sikapnya langsung berubah 180 derajat. Yang tadinya dominant langsung berubah submissive.
"Pak Tory," Sapa pria itu sambil tersenyum ramah. "Saya tidak tahu Bapak datang ke lokasi syuting,"
"Saya datang dari awal kalian syuting hari ini. Saya lihat kamu ekstra fokus ke Laura." Sindir gue yang langsung bikin wajahnya pucat pasi.
"Itu... saya minta maaf. Saya mau hasil yang sempurna."
"Apa kamu baru kali ini kerja sama dengan Laura?"
"Iya, Pak. Baru pertama kali ini. Tapi Laura sangat profesional" Sutradara itu memuji Laura. Kalau gue ga lihat ia membully Laura, mungkin gue akan setengah percaya ucapannya.
"Saya mau lihat Laura syuting hari ini." Ucap gue memotong bualan sutradara.
"Tentu bisa." Sutradara itu mengangguk walau gue bisa lihat sorotan matanya ga setuju.
"Rasyi! Siapkan tempat duduk!"
Seorang staf berlari membawa kursi lipat dan membukanya di dekat kami. Lalu kembali membawa satu kursi untuk Laura duduk.
"Terima kasih," Ucap Laura ke staf laki-laki yang langsung tersipu. Gue memberi tatapan tajam padanya yang bikin ia kabur kembali membantu temannya.
"Mari, silakan duduk," Sutradara itu meminta kami duduk di kursi .
"Terima kasih,"
"Ga apa-apa. Saya mau cek peralatan dulu di bawah." Sutradara itu langsung pergi ke bawah meninggalkan kami sebelum kami menjawab.
Tak lama kami duduk, rombongan Paris datang seakan mereka sangat eksklusif. Bahkan beberapa staf langsung menyiapkan kursi dan payung besar untuk Paris di dekat mobilnya.
Saat ia melirik ke arah kami, ia terkejut dengan kehadiran gue yang duduk di sebelah Laura.
"Ka Tory" Paris mendatangi kami. "Kok, kakak ada di sini?"
"Kenapa ga kabarin aku kalau kakak datang?"
"Gue kasih kejutan ke pacar gue."
Senyum Paris memudar. "Gimana kabar oma?" Tanya Paris berusaha mengalihkan pembicaraan. Apalagi menanyakan oma yang menyatakan ke semua orang kalau kami dekat.
Hanya kalangan kami yang tau kedekatan Paris dengan mami. Tentu aja Paris ga pernah memposting mami atau gue di sosial medianya karena kami ga suka. Terutama mami. Mami sangat ga senang orang lain mempostingnya tanpa seizinnya. Jadi masyarakat umum ga tau kalau Paris kenal dengan gue.
Bahkan saat di acara premier film Andi pun, wartawan mengira kalau Paris berbicara dengan Laura. Bukan dengan gue.
"Baik. "
"Saya ga menyangka kalau Pak Tory punya hubungan baik dengan Paris?" Tanya sutradara mendatangi kami.
"Hanya kenalan" Balas gue sebelum Paris menjawab dengan pernyataan yang ambigu. Bikin orang-orang berasumsi kalau gue punya hubungan spesial dengannya.
"Oh" Sutradara itu mengangguk. "Sebentar lagi kita mulai syutingnya."
"Nanti kita ngobrol lagi ya, ka Tory" Ucap Paris dengan suara nyaring. Sengaja agar semua orang mendengarnya. Ia langsung pergi bersama sutradara sebelum gue membalas.
"Apa gue dulu menyebalkan sama seperti dia?"
"Hm, lo menyebalkan tapi nih cewek lebih nyebelin lagi."
Seenggaknya kalau gue bilang ga suka ataupun minta berhenti, Laura akan langsung menurutinya. Walaupun ada aja cara lain yang bikin gue kesal. Tetapi Paris sangat menjengkelkan. Ia tetap melakukan meskipun gue sudah memberitahunya. Bahkan menggunakan mami sebagai tamengnya. Sampai akhirnya gue malas untuk memberitahunya. Bersikap biasa saja padanya.
"Gue kerja dulu," Laura berjalan menuruni tangga ke pantai yang di kelilingi batu karang yang besar. Ia berjalan ke arah sutradara bersama Deva dan dua asistennya, Cici dan Mita. Menerima arahan sebelum memulai syuting.
"Ayo, kita mulai syuting sekarang! Harus bisa cepat selesai sebelum air pasang naik!" Teriak sutradara yang memakai pengeras.
Gue turun ke bawah melihat Laura kerja. Selain itu khawatir Paris melakukan trik yang mencelakakan Laura kalau gue tetap di atas. Gue ga bisa mengawasi mereka kalau mereka syuting di celah batu karang.
Di bawah terik matahari, ini kalinya gue melihat proses syuting di luar ruangan yang cuacanya sangat panas. Kali ini sutradara itu ga berani membully Laura. Terutama Laura sangat profesional. Hanya saja scene yang tadinya bisa sekali take harus beberapa kali diulang karena Paris.
"Scene terakhir di pinggir pantai!" Teriak sutradara yang jelas melegakan gue.
Sebentar lagi akan berakhir. Cuaca yang panas berubah menjadi mendung. Angin mulai terasa lebih kencang dari sebelumnya. Semoga aja Paris ga bikin scene diulang berkali lagi.
"Pak," Hans berdiri di samping gue. "Ada telepon dari David," Hans menyerahkan ponsel.
"Terima kasih" Gue mengambil ponsel dari tangan David. Naik ke tangga. Menjauh dari lokasi syuting.
David menelepon mengenai pekerjaan dan meminta keputusan gue sebelum ia melaksanakannya. Kami berbicara kurang lebih 20 menit. Sesekali gue melirik proses syuting di bawah dan mendengar kalau sudah selesai.
Gue terus berbicara dengan David selama 5 menit. Baru saja menyelesaikan pekerjaan gue lewat telepon, gue mendengar suara gaduh di belakang gue.
"Laura!!!" Teriak Deva begitu nyaring mengejutkan gue.
Gue menoleh ke arah Laura yang tercebur ke air di pinggir pantai. "Hans," Gue menyerahkan ponsel gue ke Hans lalu berlari dengan sambil membuka sepatu gue.
"Jangan ke bawah!" Perintah gue ke Hans yang ingin ikut ke bawah. Gue menuruni tangga dengan kecepatan penuh.
Dari kejauhan gue melihat ombak besar datang. Yang gue khawatirkan Laura ga hanya terbawa arus ombak tetapi juga bisa terseret ke tengah laut.
Saat mendekat, Paris hanya berdiri sambil menutup mulutnya. Ia sama sekali ga membantu Laura berdiri. Sutradara, Deva dan Cici berlari lebih dulu membantu Laura berdiri di air yang mulai pasang. Memapah Laura yang mengangkat kaki kanannya.
"Cepat pergi! Ombak datang!" Teriak sutradara yang juga melihat ombak dari kejauhan datang. Menarik Paris yang susah berjalan melewati air ke arah celah batu karang. Berlari kencang lebih dulu dari kami.
"Kalian cepat pergi!" Perintah gue ke Deva dan Cici. Lalu mengendong Laura dan berlari cepat.
Sayangnya ombak itu datang begitu cepat. "Berlindung!" Teriak gue ke Deva dan Cici menunjuk belakang batu karang.
"Pegang yang kuat!" Gue menurunkan Laura. Memintanya memegang berpegangan kuat di batu karang. Gue berdiri di belakang Laura. Mencari celah di batu karang tempat untuk berpegangan.
Ombak menghantam sangat keras. Deva dan Cici hampir terbawa arus ombak kalau engga Laura yang di sebelah mereka menahan kuat tubuh Deva yang mencengkram kuat baju Cici.
"Tahan!" Teriak gue di tengah suara ombak yang keras. Seperti magnet air menarik ke arah laut. "Ayo cepat pergi!" Perintah gue langsung menggendong Laura.
Hanya beberapa meter kami akan sampai ke tangga. Sempat untuk naik sebelum air pasang kembali menerjang.
Baru sampai beberapa anak tangga, ombak kembali menerjang. Gue tetap menggendong Laura sebelum kami terseret.
"Jangan berhenti!" teriak gue ke arah Deva dan Cici.
Hans, Beberapa staf dan Mita turun melewati kami. Menarik Deva dan Cici. Hanya beda beberapa detik, ombak menerjang sampai ke tangga. Hampir menerjang Deva dan Cici jika ga ada bantuan datang.
"Pak Tory!" Hans membantu gue dan Laura.
Setelah di atas, di tempat yang aman gue baru merasakan sakit hingga ga bisa berdiri. Gue baru sadar tangan gue terluka dan mengeluarkan banyak darah. Sedangkan Laura terluka di telapak tangan dan lengan kanannya akibat menahan Deva. Yang paling parah, ke dua kaki gue dan Laura juga terluka akibat berpijak di batu karang. Menahan diri agar tetap tegak diterjang air pasang yang kuat.
Bukan hanya gue dan Laura yang terluka tetapi Deva dan Cici juga terluka di tangan. Bahkan di baju bagian punggung Cici terlihat rembesan sedikit darah.
Beberapa staf membantu mendisinfektan luka kami dan menghentikan pendarahan dengan membalutkan perban.
Selama diobati, sekilas gue melihat Paris duduk dengan wajah pucat pasi. Ga berani mendekati gue.
Setelah gue dan Laura selesai di perban, Hans langsung membawa kami ke rumah sakit. Mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh ke rumah sakit terdekat.
"Makasih sudah nyelamatin gue dan teman gue. Kalau ga ada lo mungkin kami terbawa arus." Ucap Laura saat kami di dalam mobil.
"Sama-sama." Gue menoleh ke arah Laura. Mengernyitkan dahi begitu melihat darah merembes di perban yang membalut di kaki Laura.
"Kaki lo masih keluarin darah," Gue menunduk dan mengangkat ke dua kaki Laura. Lalu meletakannya di pangkuan gue.
"Berapa lama lagi sampai?" Tanya gue ke Hans yang fokus mengemudikan mobil.
"5 menit lagi, Pak" Jawab Hans tanpa melepaskan pandangan dari depan.
Kalau sampai luka Laura parah, gue berniat membawanya kembali hari ini. Lebih baik ditangani rumah sakit yang biasa menangani keluarga gue.
Setelah sampai, Hans keluar lebih dulu lalu datang bersama staf rumah sakit membawa dua kursi roda. Membantu gue dan Laura duduk di kursi roda dan dibawa ke ruang UGD. Beruntung luka kami cepat di tangani dan dijahit. Bahkan pergelangan kaki kanan Laura yang terkilir sudah di tangani.
"Pak, Nyonya minta Bapak dan Nona Laura kembali sore ini. Rumah sakit sudah dihubungi dan pesawat sudah siap."
"Terima kasih, Hans."
"Mami gue mau kita balik." Gue menoleh ke Laura yang berbaring di ranjang sebelah gue. Ia juga selesai ditangani.
"Oke. Lagian syuting gue sudah selesai."
"Tapi gimana dengan Deva dan Cici?" Tanya Laura ke arah Deva dan Cici yang belakangan datang dari kami dan sedang ditangani dokter.
"Mereka bisa ikut kita."
"Sekali lagi makasih, Tory"
"Ga masalah. Nanti Hans akan beritahu mereka."
Luka Deva dan Cici ga separah yang kami alami. Mereka juga terluka di bagian tangan sama seperti kami. Beruntung luka di punggung Cici hanya goresan hingga ga perlu di jahit.
Selain di tangan, mereka ga memiliki luka di kaki karena mereka memakai sepatu kets. Sedangkan Laura syuting ga memakai alas kaki. Begitu juga dengan gue, melepas sepatu supaya bisa lari cepat menyelamatkannya.
Nanti setelah kami kembali ke kota kami, gue akan minta Hans mengusut kejadian yang Laura jatuh saat air pasang. Apa memang benar-benar murni jatuh atau ada orang yang bikin ia jatuh.
Selain itu gue juga ingin meminta pertanggung jawaban dari sutradara. Kejadian tadi sangat membahayakan nyawa. Ia harus memberikan penjelasan pada kami secepatnya.
Gue berharap semua memang murni kecelakaan. Tapi kalau sampai ada yang sengaja mencelakakan Laura, gue ga akan segan-segan memberi orang itu pelajaran!
*******
Komentar
Posting Komentar